Dampak Apresiasi Prestasi Harian Anak-anak dalam Pembangunan Karakter

K1: “Mah, aku sudah hafal loh surat At Tin. Mamah tau kan suratnya.”
Mira: “Oh ya. Wah hebat kakak. Coba, mamah mau dengar dong.”
K1: *membaca surat At Tin dengan lancar*
Mira: “Wah hebat kakak. Pinter. Sudah bisa hafal. Mamah bangga sekali sama kakak.”

K2: “Mamah.. kita harus beli odol nih. Buat sikat gigi aku sudah habis.”
Mira: “Oke nak. Yuk kita ke Supermarket.”
*pergi ke supermarket*
Mira: “Coba ade cari, mana odol ade.”
K2: *cari odolnya* “Ini dia Mah.. Ini punya ade.”
Mira: “Wah.. Ade pinter. Ayo taro odolnya di keranjang.”

Dua percakapan di atas adalah percakapan yang baru saja terjadi hari ini. Biasanya sih aku memang sudah berusaha untuk memberikan apresiasi dalam prestasi harian mereka. Tapiiii.. Kadang-kadang aku lupa. Raut wajah, intonasi dan gerak tubuh kadang kaku dan datar. Jadinya ya gitu deh. Agak hambar.

Makanya..Pas kemarin aku dateng ke acara gathering Lotte Choco Pie di Harlequin Bistro, aku berasa tertohok banget. Ya abisnya.. Itu aku banget. Ngasih apresiasi tapi muka datar. Padahal, harusnya itu juga di tunjukkan dalam perilaku non verbal kita kan. Jadi ngerasa bersalah banget buuuu. Huhuhuhhu.

Menurut Mbak Nina (Anna Surti Ariani), “Ketika orang tua menyadari dan menghargai prestasi anak-anak mereka, anak-anak akan termotivasi untuk melakukan hal-hal yang lebih positif. Dengan keterikatan yang lebih baik antara ibu dan anak, aspek pertumbuhan social dan psikologis mereka akan tumbuh, dan itu akan menjadi kunci kesuksesan mereka di masa depan”.

Selain itu, Mba Nina juga menambahkan bahwa salah satu penelitian dari Havermans, N., Sodermans, A.K., & Matthijs, K. pada tahun 2017 menemukan bahwa parental time berkaitan dengan hubungan orangtua-anak yang lebih baik, dan ini mengarah secara tidak langsung ke kemampuan mereka di sekolah.

Anak yang mendapatkan apresiasi juga akan lebih percaya diri dalam menjalankan setiap kegiatan mereka sehari-hari. Makanya.. Jadi PR banget nih buat aku.

Nah untuk ngasih apresiasi ini bukan melulu berupa barang atau uang juga ya bu. Kalimat pujian, penghargaan sampai kita ngasih anak encouragement juga merupakan apresiasi loh. Jadi jangan langsung berpikiran kalau apresiasi itu berupa benda atau uang. Dan moment ketika kita memberikan apresiasi ke anak atau bonding dengan anak bisa disebut dengan Premium Moment.

Dan kalau ngomongin Premium Moment, aku langsung keinget sama campaign dari Lotte Choco Pie yaitu togethermore yang sudah dilaksanakan sejak tahun kemarin.

“Membesarkan anak di era ini tentu memiliki tantangan tersendiri dan membutuhkan perhatian khusus dari ibu. Dengan tema campaign baru tahun ini, #PremiumMomentstogether kami berharap ibu-ibu Indonesia dapat lebih sadar akan pencapaian harian anak-anak mereka. Tentunya Lotte Choco Pie sebagai camilan keluarga hadir untuk menyempurnakan waktu premium itu.” kata Oci Maharani, Brand Manager Lotte Choco Pie.

Sebagai awal campaign tahun ini, Lotte Choco Pie akan meluncurkan TVC baru mereka dan juga akan mengadakan campaign online “Premium Moments, together.” dari 12 April hingga 13 Mei 2018, campaign online ini nantinya memberikan kesempatan bagi para ibu memenangkan hadiah menarik hanya dengan memilih satu dari tiga video.

Campaign dapat dilihat di www.lottechocopieindonesia.com/activity. Tema kandidat video TVC tersebut adalah “Shopping“, “Homework” dan “Greetings“. Video yang paling banyak dipilih akan ditayangkan di TV pada bulan Agustus.

Untuk berbagi momen premium dengan lebih banyak ibu dan anak di Indonesia, Lotte Choco Pie akan mengadakan acara dengan tema video yang terpilih serta mengundang ibu dan anaknya yang memberikan voting tersebut pada bulan Agustus.

Setelah aku melihat ketiga video, akhirnya aku memilih video Shopping ini.

Kenapa aku pilih ini? Soalnya di antara ketiga video ini, kegiatan Shopping adalah kegiatan yang paling sering aku lakukan sama anak-anak. Itu adalah salah satu premium moment yang sering aku lakukan sama anak-anak. Bahkan hampir setiap minggu dilakukan. Makanya karena aku merasa itu adalah premium moment yang paling sering aku lakukan bersama anak-anak, video itu langsung mendapat vote dari aku deh.

Trus.. Gara-gara merhatiin video itu, aku yang selama ini jarang ngasih “surat cinta” di bekel anak-anak kayaknya bakalan mulai rajin ngasih surat deh. Kalo untuk K1 sih bisa berupa surat. Kalau k2, masih berupa gambar. Karena dia belum bisa membaca.

Eh iya.. Hadiah campaign ini menarik banget loh. Cuma vote aja bisa dapetin grand prize ke Jepang. Iiihhh.. Gak nolak banget yak an. Makanya.. Buruan ikutan, tinggal buka websitenya, register, kasih vote lalu berdoa yang banyak.

Jadi orang tua di jaman sekarang itu tidak mudah. Makanya sebagai orang tua, kita harus terus belajar dan membangun bonding dengan anak-anak kita supaya mereka bisa tumbuh dengan baik. Dan salah satu cara bonding adalah dengan menciptakan premium moment bersama anak-anak kita. Premium moment itu mungkin terlihat sederhana, namun itu akan memberikan nilai positif di tumbuh kembang mereka dan juga memberikan anak sebuah memori yang Indah.

Yuk kita ciptakan Premium Moment bersama anak kita.

See you on the next post.

Pictures is personal documentation unless stated below the picture.

DO NOT COPY AND PASTE THE CONTENT, INCLUDE THE PHOTOS WITHOUT PERMISSION.

Copyright of kakira.my.id

20 thoughts on “Dampak Apresiasi Prestasi Harian Anak-anak dalam Pembangunan Karakter

    1. Aamin Allahumma Aamin. InShaaAllah ya mak. Kalo aku, yg sering nemenin buat PR itu justru bapaknya. Maknya sumbunya pendek bener dan jelasinnya suka muter-muter. Makanya mendingan bapaknya aja. Singkat, jelas, padat. 😀

  1. Sebenernya premium moments itu emang tiap hari ya miir.. jadi pankapan kalo emaknya spanneng kudu bilang tenang… ini premium moments jd kudu tenang. Hahahaha

  2. setuju banget. memberikan apresiasi tuh nggak cukup dengan kata kata aja yaaaa.. tapi juga harus didukung dengan ekspresi dan gesture yang tepat. biar anak anak tau kita juga tulus mengapresiasi prestasi mereka kaaaan

  3. Apresiasi emang perlu banget buat anak, ya. Kadang kita suka nggak sadar karena memang sudah seharusnya si anak bisa melakukan hal itu, padahal dia berjuang keras untuk bisa melakukannya tapi ketika bisa kita malah nggak kasih apresiasi.

    Thank’s for remind, Mbak.

Please leave a comment and I will catch up to you as soon as possible. Thank you.