Persistensi Gigi Sulung Pada Anak

Beberapa hari sebelum ulang tahun K1 yang ke 7 kemarin, dia laporan kalau gigi susu depan bagian bawahnya goyang. Untuk seusia dia, ini memang wajar. Karena memang sudah masuk waktunya untuk gigi susu dia tanggal dan digantikan dengan gigi tetap.

Seperti biasa, langsung di cek dong giginya. Nah.. Pas lagi di cek ini.. Aku kaget. Suer kaget banget. Kenapa? Soalnya di belakang gigi susu dia yang bagian bawah, sudah ada dua gigi tetap yang muncul. Lah kok bisaaaaaa…

Berhubung aku dan Udjo gak pernah ngalamin, jadi kita berdua juga bingung. Dan di saat seperti ini, gugel adalah penolong kegalauan mamak.

Ternyata keadaan itu disebut dengan Persistensi Gigi Sulung. Persistensi gigi sulung adalah suatu keadaan gigi susu masih berada di mulut / belum lepas, tetapi gigi tetap yang akan menggantikannya sudah tumbuh. Pada keadaan persistensi, terkadang gigi susu juga tidak goyang.

Hal ini bisa kita temukan pada gigi mana saja, tetapi seringkali orang tua menemukan gigi depan rahang bawah yang terlihat bertumpuk (seperti kejadian di gigi K1).

Beberapa faktor penyebab persistensi gigi sulung yaitu:

  1. Resorpsi akar gigi susu yang lambat. Hal ini bisa disebabkan gangguan nutrisi, hormonal atau gigi berlubang besar dengan indikasi perawatan saraf yang tidak dirawat.
  2. Posisi abnormal benih gigi tetap / arah tumbuh gigi tetap tidak searah dengan arah tumbuh gigi susu yang akan digantikannya.
  3. Ketidakcukupan tempat bagi gigi tetap yang akan tumbuh menggantikan gigi susu. Dengan demikian gigi tetap mengarah kepada tempat yang kosong, bisa di depan atau belakang gigi susunya. 

Pada persistensi gigi sulung, dokter gigi akan melakukan pencabutan terhadap gigi susu tersebut. Bila sudah terlihat bertumpuk/ bersusun, segera bawa anak anda kedokter gigi. Tidak disarankan untuk menunggu hingga gigi susu tersebut lebih goyang lagi atau bahkan hingga tumbuh seluruhnya. 

Bila segera dilakukan pencabutan, terdapat kemungkinan gigi tetap akan bergerak ke posisi ideal (kadang dibantu didorong dengan lidah) jika posisi memungkinkan dan tersedia tempat untuk gigi tersebut. Terkadang posisi gigi hanya sedikit berubah dan masih terlihat berjejal, sehingga diperlukan perawatan orthodontic (kawat) untuk merapihkan gigi sekaligus mengembalikan fungsi pengunyahan.

Waktu yang tepat untuk perawatan orthodontic berbeda untuk masing-masing kasus. Bila persistensi dibiarkan, dapat menyebabkan gangguan fungsi mengunyah, gangguan pertumbuhan rahang dan juga susunan gigi menjadi tidak estetik

Gak lama setelah K1 laporan itu, gak lama gigi susunya tanggal. Gak sengaja pas lagi sarapan makan cereal eh tau-tau copot. Untungnya dia sadar jadi gak ketelen. Jadilah gigi seri susunya tinggal satu yang belum tanggal.

Karena penasaran, aku sempet tanya-tanya sama temenku, Nita (jnynita.com) yang kebetulan dokter gigi. Dan menurutnya, persistensi gigi sulung penyebab utamanya ada dua, yaitu:

  • Gigi susu berlubang/radang sehingga gigi tetapnya menghindari radang itu dan menyebabkan tumbuhnya jadi salah arah.
  • Rahang kurang berkembang sehingga gigi tetapnya mencari ruangan yang lowong untuk tumbuh. Ini yang paling sering terjadi karena makanan jaman sekarang cenderung lunak-lunak dan tidak merangsang rahang untuk berkembang.

Untuk penanganan yang tepat, teorinya itu langsung dicabut, tapi biasanya dokter akan lihat penampakannya dulu. Kalau diperkirakan beberapa saat setelahnya si gigi tetap bisa dorong gigi susunya, maka biasanya akan ditunggu. Setelah gigi susunya goyang baru dicabut. Tetapi kalau gigi susunya rusak, kemungkinan besar akan langsung dicabut untuk menghindari resiko sakit.

Dan mengenai mendorong gigi sulungnya dengan lidah, Nita kurang menyarankan untuk melakukannya. Kenapa? Karena takutnya akan menjadi kebiasaan ke anak. Jika nantinya gigi tersebut sudah kembali ke posisinya, dan anak kebablasan terbiasa mendorong gigi dengan lidah, dikhawatirkan malah akan merusak posisi giginya. Saran dari Nita adalah supaya orang tuanya yang secara rutin membantu mendorong gigi sulungnya kedepan sampai posisinya sudah benar.

Jika persistensi gigi sulung ini tidak di periksa atau dibiarkan tidak lepas maka ada kemungkinan giginya bisa jadi tidak lepas sampai dewasa. Dan jika sudah demikian, takutnya kalau sudah dewasa baru mau dicabut, gigi susu dan tulangnya sudah mulai menyatu sehingga tindakan akan jauh lebih sulit.

Mengenai gigi seri K1 yang masih ada, Nita menyarankan untuk rutin mendorong gigi sulungnya  yang belum keluar sempurna kedepan. Tujuannya adalah supaya seiring dengan pertumbuhan si gigi sulung itu, secara perlahan dapat mengikis akar dari gigi serinya yang masih belum tanggal itu.


Alhamdulillah sebulan sejak K1 tanggal gigi seri pertama dan beberapa minggu sejak aku mulai rutin dorong gigi sulungnya ke depan, akhirnya tanggal juga gigi serinya. Sekarang tinggal kontrol untuk kondisi gigi tetapnya aja deh.

Pesan dari Nita, sebaiknya kita harus rutin kontrol kondisi gigi ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali. Jadi jangan tunggu sampai ada masalah, soalnya berdasarkan pengalaman Nita, ketika gigi anak sudah bermasalah akan lebih susah perawatannya karena anak biasanya akan cenderung takut ketika di rawat giginya. Padahal sebetulnya merawat gigi susu itu jauh lebih mudah daripada merawat gigi tetap.

Jadiiii… Inget yaaa untuk selalu rutin memeriksakan gigi ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.

See you on the next post. 🙂

Sumber:
  • https://www.scribd.com/doc/176874996/Persistensi-Gigi-Susu
  • https://books.google.co.id/books?id=gWZNE2bTxaYC&pg=PA16&lpg=PA16&dq=persistensi+gigi+susu&source=bl&ots=YOv-xCxl2h&sig=wpPxCyU1PeXqwOGmWPjUOXvF9i4&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwiz7JuY-cPQAhVMLI8KHVJSDHoQ6AEIWTAL#v=onepage&q=persistensi%20gigi%20susu&f=false

13 thoughts on “Persistensi Gigi Sulung Pada Anak

  1. Persis banget kayak Baron pertengahan bulan lalu juga ngalamin persistensi gigi di rahang bawah juga.Untungnya gigi susunya udah tanggal duluan jadi nggak perlu dicabut sama dokter gigi. Samaa sih, akibat nggak rajin periksa ke dokter gigi setiap 6 bulan…

    1. Iya. Dia juga akhirnya gak dicabut sih. Soalnya udah tanggal duluan. Untungnya juga punya temen dokter gigi, jadi bisa nanya-nanya deh sama dia. Hehehehehe. 😀

  2. aku waktu kecil pernah ngalami ini..untung gak di bagian depan..tapi gigi susu udah dalam keadan goyang sih..jadi ga perlu kedokter..lagian jaman dulu mana ada kepikiran dokter gigi..paling juga dicabut pake benang he2

    1. oooo.. aku sama suami karena gak pernah ngalamin jadi ya gak tau itu kenapa. Iya sih. Ini untungnya udah goyang, jadi tanggal sendiri tanpa harus dicabut sama dokter gigi. 🙂

    1. Hahahahah.. Gak usah deg-degan. Yang penting rutin cek ke dokter gigi dan anak makannya jangan yang terlalu lunak. Kalo K1 emang dia gak terlalu suka yang keras. Eh malah jadi begini. Kalo adenya mah doyan segala macem. Beda bener sama kakaknya. 🙂

  3. Aku mbak, sama nasibnya sama si K. Dua gigi seriku tumbuh bertumpuk gt. Dan benar mmg, mensorong dg lidah itu ga disarankan krn jd kebiasaan. Contohnya, ya aku sendiri. Jadinya, malah ngga rapi. Gigi seriku, terlalu keblabasan skrg

  4. Mba aku ngalamin ini tapi sayang gigi tetapku ga bisa maju kedepan, dulu aku dan ibu ga tau mesti diapain ketika gigi susu bertumpuk begitu. Alhasil klo foto aku sll cari angle sblh kiri krn yg kanan keliatan kek ompong gitu hahha pdhl gigi tetapnya maju ke belakang 🙁 PR banget buatku smg kelak anakku jgn sampe merasakan yg ku rasakan.

Please leave a comment and I will catch up to you as soon as possible. Thank you.