Creative Thinking For a Creative Child

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk hadir di acara Creative Thinking for a Creative Child yang di adakan oleh Sampoerna Academy di L’Avenue Building, Pasar Minggu. Pada saat acara berlangsung, anak-anak yang di ajak bisa mengikuti Playdate Arts & Craft atau LEGO STEAM Learning yang sudah di persiapkan oleh panitia. Seneng banget deh, jadinya orang tua bisa belajar sementara anak-anak juga bisa bermain sambil belajar dengan teman-temannya.

Kenapa sih saya tertarik untuk ikut acara ini? Soalnya di masa mendatang, tantangan yang dihadapi oleh generasi muda akan semakin besar. Orang tua mana sih yang gak kepengen melihat perkembangan anak yang baik. Nah makanya.. Sebaiknya sejak dini, orangtua perlu membekali anak-anak dengan pendidikan yang berkualitas sehingga mereka dapat tumbuh menjadi individu-individu kreatif yang mampu beradaptasi pada perubahan, memiliki pengetahuan yang lebih luas, dan juga kemampuan yang lebih matang untuk menghadapi dan menjawab tantangan..  Dan inilah materi yang diangkat dalam acara talkshow bertajuk “Creative Thinking for Creative Child” persembahan Sampoerna Academy bekerjasama dengan komunitas Joy Parenting.

Ibu Nenny Soemawinata, Managing Director Putera Sampoerna Foundation
Ibu Nenny Soemawinata, Managing Director Putera Sampoerna Foundation

Nah.. Sebelum itu mau cerita sedikit mengenai Sampoerna Academy ya. Sampoerna Academy didirikan pada tahun 2009. Dahulu awalnya Sampoerna Academy ini untuk membantu para siswa pra-sejahtera khususnya anak-anak dari SMP masuk ke SMA. Anak-anak tersebut di ajarkan menggunakan sistem edukasi berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Math).

Apakah anak yang di ajarkan dengan metode ini akan selalu menjadi Insinyur? Tidak juga. Metode ini mengajarkan anak untuk lebih terbuka, lebih kreatif dan menganalisa segala sesuatu. Dan kini sistem edukasi berbasis STEAM ini sudah di ajarkan di Sampoerna Academy dari sejak TK sampai Universitas. Jadi anak-anak sudah di ajarkan untuk kerjasama dan kolaboratif sejak dini.

Dan kini, Sampoerna Academy sudah meluluskan batch pertamanya loh. Bahkan di Sampoerna University, 10% muridnya ada yang di kirim ke Amerika Serikat dan 3 anak yang dikirim telah lulus dengan predikat Summa Cum Laude serta mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat. Sisanya sudah kembali lagi ke Indonesia dan mendapatkan pekerjaan di perusahaan Multinasional. Hebring deh.

Sampoerna Academy adalah sekolah STEAM dimana para siswa siswi akan belajar mengenai bagaimana cara untuk memecahkan dan menganalisa masalah menggunakan teknologi dan strategi pembelajaran kolaboratif, pendekatan edukasi dan aktivitas di bidang Sains, Teknologi, Seni dan Matematika untuk memacu pemikiran kritis dan kemampuan dalam memecahkan masalah. Selain itu, di sana juga menanamkan budaya kolaborasi dan berinovasi dalam keseharian mereka agar tumbuh semangat untuk bereksplorasi, bermimpi dan mencari solusi dengan cara-cara baru dalam berpikir dan berperilaku.

Oh iya, Di  Sampoerna Academy ada Student Parents Advisory Center (SPAC) yang terbuka untuk siapa saja, terutama orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya ke Amerika Serikat. Disana para orang tua bisa berdiskusi mengenai apapun yang diperlukan untuk menyekolahkan dan melanjutkan pendidikan di Amerika. Orang tua bisa mencari informasi mengenai system pendidikan Amerika, hingga test dan keperluan lain yang diperlukan supaya anak nantinya bisa mengikuti kurikulum pendidikan Amerika.

kakira_08160076

Sedikit mengenai Joy Parenting, Joy Parenting adalah sebuah gerakan sosial yang di inisiasi oleh 97,9 Female Radio yang bertujuan untuk menginspirasi dan meningkatkan kesadaran akan pola asuh yang menyenangkan. Yaitu pola asuh yang menanamkan kebahagiaan di dalam tumbuh kembang anak. Karena anak yang bahagia akan menghasilkan masa depan yang bahagia.

Yang ingin di tekankan oleh Joy Parenting adalah Bagaimana mengembangkan pola hidup sehat, Bagaimana mengembangkan mimpi, Bagaimana anak memiliki empati, percaya diri, mandiri dan kasih sayang di hati serta Bagaimana anak berbudi pekerti yang baik. Dan keempat hal inilah yang senantiasa di share oleh Joy Parenting melalui social media-nya.

Dengan sharing itu, diharapkan para orang tua, calon orang tua dan bisa sama-sama belajar karena dari Joy Parents akan menghasilkan Joyful Kids dengan Joyful Future untuk Masa Depan Indonesia yang lebih baik.

kakira_08160078
Bapak Triawan Munaf – Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia

Pak Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia menekankan, “Saat ini, kreativitas generasi muda sangatlah diperlukan agar kelak dapat bersaing dan memajukan industri kreatif Indonesia. Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya pintar, namun inovatif dan mampu secara kreatif memecahkan masalah, mengambil keputusan serta berpikir kritis.”

Artinya, orangtua harus semakin sadar bahwa selain kepintaran, kreativitas anak merupakan fokus utama yang perlu diperhatikan. Meskipun setiap orangtua tentunya menginginkan pencapaian akademik yang baik untuk anak mereka, namun dengan kebutuhan calon generasi penerus bangsa yang dapat bersaing di tingkat global, orangtua harus berusaha mencari dan memberikan edukasi berkualitas tinggi yang mampu mendorong kreativitas anak dan mendukung pencapaian mereka di kemudian hari.

Nah ngomongin Ekonomi Kreatif, apa sih sebetulnya Ekonomi Kreatif itu? Menurut Pak Triawan Munaf, kegiatan Ekonomi Kreatif adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan untuk menghasilkan uang, namun di lakukan dengan hati yang senang. Jika kita merasa senang dalam melakukan sesuatu, maka kreativitas kita akan lebih terasah. Ekonomi Kreatif membawahi 16 sub sektor yang kebanyakan berkaitan dengan seni, antara lain Seni Pertunjukan, Film, Fashion, Musik, Fotografi, Kuliner, Arsitektur, Grafik, Video, dan lain sebagainya.

Di Ekonomi Kreatif ini, di tekankan pentingnya exposure seseorang terhadap bidang seni atau kreativitas. Kenapa? Karena banyak dari beberapa nama terkenal di dunia ternyata memiliki exposure terhadap seni/kreativitas 8x lebih banyak daripada orang biasa. Contohnya Steve Jobs yang belajar tentang kaligrafi, Einstein yang belajar tentang biola, dan lain sebagainya. Perkawinan antara art dan creativity menghasilkan hal yang sangat luar biasa. Setiap anak memiliki talenta tersendiri, dan itu adalah tugas dari orang tua untuk bisa mengidentifikasi dan mengasah talenta anaknya. Awalnya mungkin anak akan merasa bosan, dan disinilah peran orang tua supaya anak bisa serius dan disiplin dalam menjalankannya.

kakira_08160077
Ibu Retno Dewanti Purba, S.Psi – psikolog anak terkemuka

Retno Dewanti Purba, S.Psi, seorang psikolog anak terkemuka, menjelaskan bahwa kreativitas tidak terbatas pada kemampuan di bidang seni, namun juga berhubungan dengan penguasaan di bidang sains, matematika, serta kecerdasan sosial dan emosional.

Retno menegaskan, “Kreativitas tidak hanya membutuhkan imajinasi dan aspirasi pada anak, namun juga proses disiplin untuk memacu kemampuan, pengetahuan dan kontrol diri. Orangtua perlu mendukung kemampuan anak untuk lebih kreatif dengan memastikan edukasi yang diberikan berkualitas tinggi dan merangsang cara berpikir kreatif.”

Bentuk edukasi yang memacu kreativitas memang tidak serupa dengan sistem edukasi biasa. Sistem pengajaran semacam ini menekankan kemampuan untuk berpikir ‘beda’, dimana anak didorong untuk memiliki kemampuan berinovasi, memecahkan masalah dengan tepat, kritis, serta dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tanggap. Hal ini dilakukan dengan merangsang kreativitas melalui penggunaan analogi, metafora, dan pemikiran visual. Anak-anak pun didukung untuk lebih bebas dalam mengekspresikan ide, khususnya dalam pemecahan masalah. “Sistem edukasi ini lebih mengutamakan proses daripada hasil yang dicapai,” tambah Retno.

Menurut Mba Retno, kreativitas tidak dapat dilakukan jika kita tidak membuka pikiran kita. Kreativitas memerlukan kelenturan untuk bergerak kesana dan kemari. Jika orang tuanya terbuka, maka anak akan mendapatkan kesepatan lebih banyak untuk mengapresiasi keterbukaan.

Apa sih kreativitas? Kreativitas adalah setiap daya manusia untuk menciptakan kebaruan (novelty). Dan karena jumlah manusia sudah sangat banyak, maka kesempatan kita untuk menciptakan kebaruan menjadi semakin kecil. Namun kita masih memiliki kesempatan untuk menciptakan kebaruan lain. Misalnya dalam cara kita berpikir atau memandang sesuatu, memandang art, dan lain sebagainya. Perlu diingat juga, proses kreatif tidak harus selalu dalam bentuk menghasilkan sesuatu yang bisa di nikmati oleh orang lain. Ide dan imajinasi saja sebetulnya sudah termasuk proses kreatif.

Kreativitas adalah kerja otak, walaupun melibatkan perasaan. Kerja otak di bagi menjadi 2 kelompok yaitu Reproduktif (mengulang yang sudah di alami/pelajari) dan Kombinatoril (kombinasi/menggabungkan berbagai hal menjadi sesuatu yang baru). Ketika anak melakukan suatu kegiatan berulang-ulang, yang sedang di kembangkan adalah fungsi Reproduktif. Dan bagaimana anak bisa mengembangkan kombinatorial-nya, itu adalah tugas kita sebagai orang tua supaya anak bisa lebih kreatif.

Proses pendidikan dan proses pengasuhan memampukan anak supaya proses retrieval (pemanggilan ingatan) dan kombinatorial anak lebih mudah. Proses kreativitas terjadi jika anak sudah bisa menggabungkan sesuatu menjadi hal yang baru. Oleh karena itu, Jangan mematikan kreativitas anak.

Ketika otak mengolah informasi, otak kiri akan memproses informasi secara linear, sedangkan otak kanan akan memproses informasi secara holistik. Otak kiri akan menerjemahkan secara logis, sementara otak kanan akan menerjemahkan secara lebih luas Keduanya akan menjadikan satu informasi yang utuh. Jadi dengan kata lain, otak kanan dan otak kiri selalu bekerja sinergis, tidak dapat terpisah.

Kreativitas bisa terjadi jika anak bisa terpapar pada banyak hal dan ia juga mengalami keberhasilan dan kegagalan sehingga ia bisa menggabungkan, memanipulasi dan mengembangkan ide-idenya.

kakira_08160079
Ibu Yannik Herawati – Kepala Sekolah Sampoerna Academy

Yannik Herawati selaku Kepala Sekolah Sampoerna Academy menjelaskan, “Sampoerna Academy menerapkan kurikulum yang memungkinkan peserta didik dari Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Tingkat Menengah Atas mendapatkan sistem pengajaran yang mengedepankan creative thinking dalam keseharian mereka.”

Di Sampoerna Academy, para siswa siswi akan belajar mengenai bagaimana cara untuk memecahkan dan menganalisa masalah menggunakan teknologi dan strategi pembelajaran kolaboratif, pendekatan edukasi dan aktivitas di bidang Sains, Teknologi, Seni dan Matematika untuk memacu pemikiran kritis dan kemampuan dalam memecahkan masalah. Selain itu, kami juga menanamkan budaya kolaborasi dan berinovasi dalam keseharian mereka agar tumbuh semangat untuk bereksplorasi, bermimpi dan mencari solusi dengan cara-cara baru dalam berpikir dan berperilaku.

Ketika awal menjalankan Sampoerna Academy, bu Yannik menghabiskan banyak waktu hanya untuk research dan memastikan guru yang di pekerjakan memiliki pandangan yang sama dan juga memiliki semangat yang sama untuk membangun kreativitas dan pemikiran kritis anak. Ia ingin membangun sebuah sekolah berkualitas dimana investasi yang terpenting dari sekolah itu adalah guru. Jiwa dari Sampoerna Academy adalah guru-guru mereka. Semua guru harus bisa berpikir out of the box dan berpikir bahwa anak adalah pusatnya dan semua anak memiliki sinarnya masing-masing.

Semua anak terlahir kreatif. Namun apakah ia akan berkembang menjadi anak yang kreatif, itu tergantung dari perkembangan anak dan juga pendidikan berkualitas serta pengasuhan yang di berikan ke anak tersebut.

Anak-anak di Abad 21 ini sudah berbeda generasinya dengan jaman dahulu. Pengajar masa kini harus bisa menempatkan diri di sepatu anak-anak karena pola pikir mereka sudah berbeda, jadi para pengajar juga harus bisa mencari tahu bagaimana untuk masuk ke pola pikir mereka.

Sebagai orang tua, kita harus bisa bertanya “kenapa” ke anak. Ini bertujuan supaya anak bisa memiliki kemampuan untuk menjawab dan memberi alasan atas semua yang mereka lakukan. Jadi, semua yang dilakukan anak akan memiliki makna bagi mereka. Selain itu, sebagai orang tua, kita juga harus senantiasa memiliki waktu bareng anak supaya mereka bisa tetap merasa dekat dengan kita dan juga mendapakan kasih sayang dari kita.

Setelah mengikuti seminar ini aku jadi makin yakin untuk terus membimbing K1 dan K2 dalam mengembangkan kreativitas mereka. Mungkin kalau K1 lebih suka ke bidang seni lukis, sedangkan K2 ke seni bangun. Memang masih panjang perjalanan, tapi semoga mereka tetap mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan dan melalui proses tersebut. Apalagi disebutkan kalau kreativitas itu adalah suatu proses yang panjang, di awali dengan exposure atau paparan anak ke banyak hal dan banyak pengalaman. Jadi jangan sampai deh aku malah tutup kesempatan K1 dan K2 untuk melalui proses itu.

Panjang yaaa cerita saya kali ini.. Intinya.. Yuk ajak anak kita untuk berimajinasi dan mengembangkan kreativitas mereka. 🙂

8 thoughts on “Creative Thinking For a Creative Child

  1. Aku juga kadang berasa gak kreatif mir. haha. Tapi emang klo udah jadi ibu, harus banyak ikut acara begini biar tau cara mendidik anak biar lebih kreatif dan memaksimalkan potensi anaknya yaa

  2. Halo bu! sy juga hadir dlm event tsb. Sy jg rasakan hal yg sama, excited dg acara tsb, krn nambah pengetahuan sy dan anak jg happy.
    sy sgt menantikan event2 sampoerna academy lainnya tp sy ga gak tau car infonya bagaimana? ibu bisa bantu?

    1. Hallo bu. Terima kasih sudah mampir ke blog saya. Untuk cari infonya, saya sendiri kurang tahu. Supaya lebih jelas, mungkin ibu bisa langsung bertanya ke Sampoerna Academy-nya saja. 🙂

Please leave a comment and I will catch up to you as soon as possible. Thank you.