Review: Ngenest

Ditengah hebohnya film Star Wars akhir tahun kemarin, ternyata ada juga film Indonesia yang baru dirilis. Sebetulnya ada dua. Dan salah satunya adalah film Ngenest. Film ini diangkat dari buku trilogi Ngenest, yang merupakan kisah nyata dari penulisnya, Ernest Prakasa.kakira_0116042Film Ngenest ini ditulis skripnya, disutradarai, dan diperankan oleh Ernest Prakarsa sendiri. Cerita yang diangkat adalah mengenai kisah hidupnya dari kecil hingga dewasa dan cita-citanya untuk mencari seorang istri yang Pribumi. Kenapa dia mau punya istri yang Pribumi? Soalnya Ernest, seorang keturunan Cina tulen, merasa lelah sepanjang hidupnya di bully terus karena dia adalah seorang keturunan Cina. Oleh karena itu, dia ingin memutus mata rantai “ketulenan” Cinanya dengan menikahi seorang pribumi. Dan dengan melakukan hal itu, ia berharap keturunannya tidak akan menerima perlakuan yang sama yang diterima olehnya sejak kecil dulu.

Kalau dilihat, sebetulnya isu yang diangkat oleh Ernest ini adalah isu sensitif karena mengandung SARA. Tapi dia berhasil mengangkat hal ini dengan cara yang bagus dan penuh gelak tawa namun tetap sarat makna. Jadinya kita bisa tetap menikmati film ini dengan baik.

kakira_0116041

Adegan demi adegan yang ditampilkan juga cukup menarik. Memang sih ada sedikit yang menurut aku agak aneh, tapi masih bisa diterima lah. Adegan yang bikin aku “ngaca” banget adalah adegan ketika Meira mau pergi dan bingung pilih baju. Itu gw banget. Hahahahah..

Untuk akting pemerannya sendiri juga cukup baik. Aku sih sukanya sama Morgan Oey (Patrick) dan Lala Karmela (Meira). Pas aja.

Overall, film ini cukup bagus untuk ditonton. Karena memang benar kata Ernest.. Kadang hidup perlu ditertawakan.

8 thoughts on “Review: Ngenest

    1. Kemaren kebetulan emang lagi pergi berdua aja. Gak sama anak-anak. Jadinya bisa bebas pilih film yang dimauin. Bagus kok buat bikin kita ketawa ketiwi. 🙂

    1. Awalnya aku bingung diantara dua film itu. Tapi karena baca banyak yang bilang lebih layak tonton yang ini, jadinya milih yang ini. Lagipula emang lebih suka sama StandUp-nya Ernest juga sih. Dan emang ternyata bagus. Sok atuh ditonton juga. 🙂

    1. Kalo aku sih blom baca bukunya. Jadi ya gak ada ekspektasi apa2. Tapi based on experience, aku pribadi kalau nonton film yang diadaptasi dari buku, pas nonton tetep pasang mindset filmnya film biasa aja. Biar gak ada ekspektasi apa2. Jadinya bisa lebih menikmati filmnya. 🙂

Please leave a comment and I will catch up to you as soon as possible. Thank you.