Batasan Dalam Bercerita

Beberapa waktu yang lalu, aku ikutan sebuah talkshow yang topiknya adalah Mendokumentasikan Perkembangan Anak Dalam Blog. Berhubung saat itu ada sedikit masalah teknis jadi aku gak bisa merangkum isi talkshownya, jadi aku mau cerita tentang batasan dalam bercerita aja ya karena talkshow itu seperti mengingatkan aku lagi tentang batasan ini.

Sebetulnya, dulu aku bikin blog itu untuk dokumentasi perkembangan anak. Dan sebagai ibu baru, dulu kayaknya segala macem mau di post aja. Baik di blog maupun di social media. Because I am a proud mother.

Jadi dulu, segala aktivitas anak pasti sebisa mungkin di post. Kalau gak di blog ya di social media. Tapi.. Pada suatu waktu, mungkin Udjo gerah juga kali yah. Jadinya diapun sedikit komplain. Kok semua di post sih. Dan pada saat itu, Udjo pun mengingatkan aku beberapa resiko yang dulu gak kepikiran sama aku pas lagi post foto-foto dan kegiatan anak.

Salah satunya ya resiko kejahatan. Udah sering denger kan kejahatan sekarang sudah semakin banyak dan beragam. Termasuk kejahatan di dunia maya. Plagiat, pencurian data, pencurian foto dan masih banyak lagi. Selain itu, banyak juga yang ngumpulin data dari dunia maya, lalu di bawa ke dunia asli. Seperti pedofil, *amit-amit* penculikan anak sampai *amit-amit* pembunuhan. Digital print atau jejak digital kita sekali tercantum di dunia maya, selamanya akan ada disana.

Nah. Sejak itulah aku jadi membatasi diri dalam berbagi dan bercerita di blog maupun social media. Iya sih aku masih post nama anak (walaupun bukan nama lengkap), foto anak dan kadang-kadang suka check-in lokasi di social media. Tapi sebisa mungkin semua itu lebih terseleksi.

wpid-wp-1446650794190.jpg

Batasan yang aku terapkan dalam berbagi cerita baik di blog maupun di social media antara lain:

  1. Sebisa mungkin jangan cantumkan nama lengkap anak. Dulu aku sempet post nama lengkap anak di social media, tapi sebisa mungkin aku delete dan sekarang aku hanya post dengan nama panggilan atau kalau di blog, dengan nama K1 dan K2. Udjo dan Mio pun sebetulnya nama panggilan kita, bukan nama asli. Walaupun kalau nama asli aku sih ya keliatan juga. Tapi untuk anak dan suami, sebisa mungkin nama panggilan aja.
  2. Jangan post alamat rumah maupun nama dan alamat sekolah anak. Again, for safety reasons. Aku gak post alamat rumah maupun alamat sekolah anak. Kalaupun ada yang tahu alamat aku ya biasanya itu temen deket. Kalau untuk di blog maupun social media, aku membatasi untuk tidak post nama dan alamatnya.
  3. Check in lokasi di tempat ramai. Biasanya kalau aku check in lokasi, Itu adalah tempat ramai jadi gak cuma aku sendiri aja atau kita aja yang di sana. Atau, check-in juga bisa bersifat late post. Jadi aku check-in kadang-kadang malah pas aku udah gak di lokasi itu lagi. Tapi, buat aku, BIG NO NO untuk check in lokasi di rumah maupun di sekolah anak. Karena walaupun di sekolah banyak orang, tapi tetap membahayakan buat anak.
  4. Jangan post foto anak tanpa memakai baju, sedang mandi dan kegiatan yang kita sendiri tidak mau atau akan malu untuk post di blog maupun di social media. Kita pasti malu kan kalau lagi mandi trus di foto dan fotonya di post di social media. Nah, harusnya batasan itu juga berlaku untuk anak kita. Walaupun mungkin bagi kita lucu, tapi sebaiknya jangan di lakukan.
  5. Jika anak sudah beranjak dewasa, minta izin ke anak untuk post foto mereka. Tentunya kita gak mau kan kalau foto kita tau-tau di post di social media orang tanpa izin. Atau pasti kita punya foto yang kita gak suka kalau kelihatan sama orang. Mungkin fotonya sih biasa aja, tapi kita gak suka aja. Nah anak juga pasti suatu saat merasakan hal yang serupa. Jadi alangkah baiknya, jika anak sudah bisa di ajak diskusi, minta izin dulu ke mereka sebelum post di blog atau social media.
  6. Jangan bercerita secara detil mengenai lokasi ataupun hal-hal pribadi. Mungkin kalau mau cerita detail bisa aja mengenai perkembangan anak. Tapi kalau lokasi dan hal yang pribadi, sebaiknya tidak ya.

Hmmm.. Apalagi yah.. Kurang lebih itu aja sih. Intinya supaya lebih hati-hati aja untuk sharing hal pribadi di ranah dunia maya. Nanti kalau ada yang keinget lagi, aku update ya.

Nah kalau mengenai foto, sebagai orang tua pasti pengen dong dokumentasiin foto anak kita. Gak harus semuanya masuk ke dunia maya ya. Kalau aku sih, masih hobi foto anak-anak. Tapi masuknya ya ke memory handphone. Lalu di transfer ke notebook dan di save juga di hard disk external. Ada beberapa yang di cetak, tapi banyak BANGET yang di simpan di HDD External. Gak masuk ke social media dan blog bukan berarti gak di dokumentasiin sama sekali loh.

Mendokumentasikan kegiatan, baik kegiatan kita maupun anak dan keluarga di social media ataupun blog boleh-boleh aja. Tapi harus ada batasannya juga ya dalam bercerita. Supaya kegiatan bercerita tetap jalan, namun keamanan juga tetap terjaga.

Selamat bercerita. 🙂

26 thoughts on “Batasan Dalam Bercerita

  1. Biasanya saya sebut nama depan aja Mba’ kalo cerita tentang anak, ke depan mungkin pakai nama panggilan atau singkatan aja biar lebih aman, thanks for sharing Mak. 😉

  2. Aku dulu juga sempet posting nama lengkap anak. Tapi setelah paham bahayanya, aku langsung jadiin itu private post, biar cuma bisa dibaca aku doank.

    Dan postingan ini bener2 ngingetin batasan2 itu. Thanks ya mbak sharingnya 🙂

  3. Kalo foto2 yg kurang ‘sharable’ tp takut ilang, aku biasa upload ke fb tp settingannya privat. Terus kl check in2 gt aku jg gak pernah. Nulis nama lengkap anak pernah, tapi kalo lagi cerita biasanya ya panggilan aja, pegel jg nama sepanjang itu disebutin detil, hihi..

    1. Dulu aku sempet share di flickr dgn settingan private. Tp skrg di save di notebook dan beberapa HDD aja. Jadi ada beberapa copy. Kalo lagi rajin, kadang-kadang di taro di cd juga. Hehehehe.. Maksud aku di hindari penulisan lengkapnya aja. Tapi kalo lagi cerita sih emang nama kecil aja. 😉

  4. sepakat, mak 🙂 lebih baik mencegah daripada udah kejadian.. saya kalau posting di blog milih foto anak yang gak keliatan jelas mukanya.. cuma agak susah nih, ngerem neneknya.. yang masih suka pajang foto di FB.. 🙁

    1. Kalo aku, sejauh ini masih suka kelihatan sih. Cuma memang mulai di batasi. Iya. Agak susah ya kalo ngerem orang lain. Apalagi kakek dan neneknya. Karena sama aja kayak kita. Mereka proud grandparents. Jadi maunya kasih liat ke semua orang. Harus diomongin pelan-pelan biar bisa di kurangi. 🙂

Please leave a comment and I will catch up to you as soon as possible. Thank you.