Ortu Belajar: Is Stranger Danger?

Kemarin saya dapet undangan dari Kumpulan Emak-Emak Blogger untuk ikutan acara Ortu Belajar yang di adakan oleh TigaGenerasi dan blibli.com di Conclave. Nara sumber acara kali ini adalah Mba Anna Surti Ariani atau yang biasa di kenal dengan panggilan mba Nina. Pas aku baca siapa nara sumbernya, langsung deh daftar. Aku udah pernah ikutan juga event yang nara sumbernya beliau, dan menurut aku ok banget, baik itu dari materi maupun penyampaiannya. Ngena. 🙂

Sekilas Mengenai TigaGenerasi

TigaGenerasi adalah layanan edukasi psikologi dan kesehatan yang berfokus pada tumbuh kembang anak dan keluarga yang di dirikan oleh Noella (ui) Birowo dan Astrid Wen. Visi dari TigaGenerasi adalah menjadi rekan keluarga dan pusat informasi sehubungan perkembangan anak dan keluarga. Sedangkan misinya adalah menyediakan jasa profesional dan informasi terintegrasi dengan dukungan platform digital, sehubungan dengan perkembangan anak dan keluarga.

Nama TigaGenerasi mereka pilih karena itu adalah nama yang mewakili ciri khas keluarga Indonesia dimana dalam satu keluarga tidak hanya terdiri dari orang tua dan anak, namun ada kakek serta nenek yang juga berperan dalam tumbuh kembang anak dan keluarga.

Untuk lebih lengkapnya, bisa cek ke website TigaGenerasi aja ya.

Is Stranger Danger?

Setelah perkenalan tentang TigaGenerasi, acara langsung di lanjutkan dengan Talkshow dengan mba Nina.

DSC_0156Untuk membuka materinya, mba Nina memberikan informasi beberapa berita yang cukup bikin merinding tentang beberapa penculikan yang baru-baru ini terjadi. Beberapa di antaranya memang akhirnya di temukan kembali, namun anak dalam keadaan tidak baik. Ada yang lebam, trauma, dan lain sebagainya. Duh serem ya. Selain itu, mba Nina juga memberikan informasi tentang jumlah kasus penculikan anak yang berhasil di data oleh Komnas Anak pada tahun 2014 dan 2015. Jumlahnya cukup banyak ternyata. Duh.. *peluk duo K erat-erat*

IMG_-5mz8ep

Nah siapakah penculiknya?

Ternyata, berdasarkan fakta yang ada, penculik anak pertama adalah keluarga sendiri. Biasanya kasus ini terjadi terkait dengan perceraian orang tua dan perebutan hak asuh. Tapi selain itu ada juga kasus non keluarga, antara lain adopsi ilegal, perdagangan anak atau child trafficking, kejahatan seksual, gangguan jiwa, masalah ekonomi, dan ada juga penculikan anak dengan tujuan untuk memeras atau mengancam orang tuanya.

*duh stress sayah* 🙁

Nah.. Ada beberapa mitos dan fakta yang cukup menarik.

mitosfakta

Kita bahas alasannya ya..

  1. Mitos karena ternyata, sebagian penculik itu justru dari keluarga atau orang yang di kenal. Dan kasus ini biasanya terjadi karena perceraian orang tua dan perebutan hak asuh anak. Dan sayangnya seringkali anak yang menjadi korban karena hal tersebut. 🙁
  2. Mitos karena teknologi handphone cukup membantu sehingga anak bisa dengan lebih cepat di temukan. Untuk koordinasi juga jadi lebih cepat karena adanya teknologi handphone tersebut. Namun, yang sering kita duga untuk jawaban pernyataan kedua adalah sebaliknya (fakta) karena saat ini, marak sekali pemberitaan penculikan anak sehingga terlihat sangat banyak. Padahal sebetulnya penculikan yang terjadi hanya sedikit, namun pemberitaannya yang terlalu banyak, sehingga kita menduga semakin banyak penculikan yang terjadi. Selain itu, sedikit yang tertarik karena hukuman untuk penculik anak itu berat serta di nilai tidak menguntungkan karena faktor harus merawat anak yang di culik tersebut.
  3. Mitos karena ketika kita menemukan anak hilang, sebelum di kembalikan ke keluarganya biasanya akan di tanya terlebih dahulu latar belakang ia kabur atau hilang. Bisa saja anak itu kabur karena sering menerima perlakuan KDRT di rumah sehingga sebelum ia di kembalikan, maka akan butuh konseling keluarga terlebih dahulu.
  4. Fakta karena anak lebih mudah tertarik kepada mereka yang memanggil namanya. Oleh karena itu JANGAN memakaikan pakaian yang ada nama anak, baik itu nama panggilan maupun nama lengkap. Sama halnya seperti stiker yang sekarang sering di temui di kendaraan pribadi, stiker anggota keluarga lengkap dengan namanya. Itu berbahaya sekali untuk keamanan anak.
  5. Mitos karena ketika suatu saat anak memerlukan bantuan, otomatis ia harus berbicara dengan orang yang tak dikenal, misalnya berbicara pada satpam. Akan lebih tepat untuk mengatakan kepada siapa dan kapan ia harus berbicara.

Kepada siapa anak harus berbicara ketika berpisah dari orang tua?

Untuk anak balita, beritahukan dan tunjukkan kepada mereka siapa saja yang boleh mereka ajak bicara untuk meminta bantuan jika terpisah dari orang tua. Misalnya Guru, Satpam atau Ibu yang membawa anak. Jangan hanya di beritahu saja ya, tetapi langsung di tunjukkan “contoh” orangnya karena pada usia mereka, jika hanya di beritahu, mereka belum bisa paham karena hal itu di kategorikan abstrak. Supaya mereka bisa mengerti, tunjukkan langsung.

Untuk anak >4 tahun, beritahukan dan tunjukkan juga kepada siapa mereka boleh berbicara jika terpisah dari orang tua, antara lain orang berseragam (staff atau satpam), life guard, orang yang sudah tua (nenek-nenek atau kakek-kakek), dan orang yang terlihat bisa di percaya.

INGAT.. Anak dibuat aman dan nyaman, bukan di buat khawatir dan bagaimanapun membuat anak nyaman itu tidak sama dengan membuat orang tua khawatir. Sebagai orang tua, kita juga harus bisa merasa nyaman ketika kita membuat anak kita aman dan nyaman. Kalau kita terlalu khawatir, kita akan paranoid sendiri. Dan jika hal ini terjadi, yang akan terjadi adalah helicopter parenting. Dan itu tidak benar, karena bagaimanapun juga, anak harus bisa merasa bahwa mereka itu di percaya dan harus bisa berkembang dengan kemampuan mereka sendiri. Hal itu memang tidak mudah, namun harus segera dimulai. Jadi mau tidak mau, kita juga harus bisa mengajari anak cara untuk menolak.

Bagaimana mengajari anak untuk menolak?

Ketika anak di tawari permen/coklat/mainan, ajari anak untuk mengatakan “Tidak, Terima kasih.” Karena dalam budaya kita, ucapan terima kasih adalah suatu hal yang lazim di katakan selain itu, dengan mengucapkan “terima kasih” biasanya akan lebih manjur dalam menolak pemberian orang daripada hanya berkata “tidak” saja. Namun beritahukan juga kepada anak kita, jika memang suatu saat ketika ia di tawari dan anak kita ternyata tertarik banget atau kepengen banget, maka ia harus bertanya atau meminta izin dahulu ke kita supaya kita sebagai orang tuanya tahu siapa yang menawarkan atau supaya bisa mencari permen/coklat/mainan tersebut bersama kita, bukan dari orang tersebut.

Selain itu, kita juga harus mengajari anak untuk menolak ketika di tawarkan untuk mencari binatang atau di ajak bermain dengan binatang orang yang tidak ia kenal. Ajari untuk mengatakan “Tidak, terima kasih saya sudah punya binatang peliharaan.” Jika orangnya tetap memaksa atau anak kita kepengen punya binatangnya, ajari anak untuk bilang ke orang tersebut supaya bertanya dan meminta izin dahulu kepada orang tua. Secara langsung (saat itu juga), tidak di tunda-tunda karena bisa saja orang tersebut berdalih akan menelepon nanti atau habis pulsa, dan lain sebagainya.

DSC_0213
Arie Dagienkz lagi praktek cara mengajari anak menolak

Ketika kita mengajari anak untuk menolak, akan lebih efektif dengan menggunakan cara praktek langsung dengan roleplay. Kenapa dengan roleplay? Karena jika hanya di ajari berupa kata-kata, maka yang mereka rasakan secara indrawi hanyalah melalui pendengaran dan pengelihatan secara pasif. Hal ini di sebut dengan hal yang abstrak. Dan sesuatu yang abstrak tidak akan cukup untuk membuat anak paham jika suatu saat *yang amit-amit semoga gak kejadian* terjadi keadaan/situasi yang sebenarnya. Mereka membutuhkan “pengalaman” secara lebih lengkap, minimal di lihat atau di lakukan supaya mereka tidak hanya mengerti, tetapi juga paham dan memilik keterampilan apa yang harus mereka lakukan jika situasi tersebut terjadi.

DSC_0218
Peserta lagi praktek roleplay dengan anak

Yang harus diajari ke anak?

  • Ketika di ajak pergi dari tempatnya tanpa orang tua
    • Bilang tidak
    • Bilang mau pamit dulu ke orang tua
  • Ada yang mau memeluk/meraba tubuhnya
    • Tangkal dengan tangan/kaki
    • Teriak “tolong” sambil lari
  • Jika dipaksa
    • Lari ke tempat ramai sambil berteriak “tolong”

Selain mengajari yang di sebut di atas, kita juga harus meningkatkan keterampilan anak dalam mengetahui siapa saja yang bisa di mintakan pertolongan. Misalnya satpam. Ketika kita berada di mall, kita bisa ajak anak bermain mencari satpam atau menghitung satpam. Hal ini untuk membiasakan anak mengetahui dengan cepat keberadaan satpam di sekitar mereka supaya jika terpisah, mereka bisa dengan cepat menemukan dan mengenali satpam untuk dimintakan pertolongan.

DSC_0226Yang harus di ingat dalam mengajari anak adalah, jangan mengajari anak untuk menghindari orang compang-camping/jelek. Karena itu bisa jadi malah nantinya membuat anak tidak memiliki rasa empati terhadap sesama yang membutuhkan. Dan selain itu, bisa jadi malah justru mereka yang akan menjadi penolong di saat anak membutuhkan bantuan. Terlebih lagi, saat ini, penculik anak justru seringkali berpakaian baik atau necis.

Ketika sedang bersama anak, jangan berjalan sambil memainkan gadget. Kenapa? Karena ketika kita memainkan gadget, tentunya kita akan tidak fokus, dan ketika kita tidak fokus, bisa saja ada yang mengambil kesempatan tersebut untuk berbuat jahat. Fokuslah pada anak kita. Jangan sampai anak kita hilang ketika kita sedang sibuk update status social media. 🙁

Hindari memakaikan pakaian dengan nama anak tertulis besar. Mungkin memang lucu, tapi sebetulnya itu berbahaya untuk anak. Karena bisa di manfaatkan oleh orang yang ingin berbuat jahat kepada anak kita.

Cara Mengamankan Anak ketika Pergi

  • Pakaikan baju yang unik, misalnya motif kotak-kotak, bunga, dan lain sebagainya.
  • Minim perhiasan
  • Jika perlu, berseragam dengan anak. Tidak harus sama persis, tapi bisa juga dari tone warna yang senada, atau model yang serupa.
  • Beri kartu nama kita di baju anak/tuliskan di bagian pakaiannya (kerah baju, sepatu, dll)
  • Berfoto bersama anak sebelum pergi.
  • Perhatikan kondisi lingkungan:
    • Kira-kira di mana anak senang mampir
    • Dimana petugas keamanan (katakan kepada anak)
  • Sepakati tempat bertemu, atau orang tua menunggu dimana
  • Ingatkan, jarak maksimal 5 langkah besar (untuk anak < 7 tahun).
  • Sewaktu-waktu, cek keberadaan anak.
  • Kerjasama dengan sesama teman/keluarga yang ikut pergi.

Berikut adalah hal-hal yang sebaiknya di ketahui oleh anak berdasarkan usia.

yang harus di ketahui anak

Ketika Anak Hilang, Apa yang harus dilakukan?

Ketika ternyata anak kita hilang, yang harus kita lakukan adalah panggil nama anak keras-keras. Hal ini tentunya supaya anak bisa mendengar panggilan kita (jika memang ada di sekitar kita namun tidak terlihat).

Jika tidak ada sahutan, segera cari staf toko atau satpam lalu jelaskan situasinya. Tunjukkan foto terakhir anak kepada satpam atau staf toko supaya mereka bisa membantu mencari anak dan jelaskan identitas anak (nama, ciri-ciri dan lain sebagainya). Jika kita sedang bersama anak kita yang lain, pegang anak atau gendong anak kita supaya aman.

Lebih baik MALU karena ternyata anak ada di sekitar kita, daripada MENYESAL karena dia hilang. – Anna Surti Ariani

Sebagai orang tua, tentunya kita tidak mau dong anak kita hilang. Jadi alangkah lebih baik kita waspada dan segera mencari pertolongan ketika kita tidak bisa menemukan anak kita (padahal dia ada di sekitar kita namun tidak terlihat oleh kita) daripada menyesal karena kita tidak segera mencari pertolongan ketika kita tidak bisa menemukan anak kita.

Ajak Anak Waspada

Kita juga harus mengajak anak kita untuk waspada terhadap sekitar mereka. Terutama jika mereka menemukan hal-hal berikut:

  • Orang yang membuat anak sakit
  • Orang yang terlalu akrab padahal tidak terlalu kenal
  • Berusaha keras berdua saja dengan anak
  • Menyentuh bagian privat
  • Mabuk atau pura-pura mabuk
  • Memegang pisau atau pistol padahal bukan polisi

Ketika Menemukan Anak Hilang, Apa Yang Harus Dilakukan?

Bukan tidak mungkin, suatu saat kita bisa menemukan anak yang tersesat atau anak hilang. Dan dalam keadaan ini, yang harus kita lakukan pertama adalah kenali wajahnya dan perhatikan ciri khas mereka. Tatap matanya dengan ramah (eye level) lalu sampaikan bahwa kita mau membantu mereka.

Tanya kartu nama orang tua atau jika tidak ada, tanyakan nomor telepon orang tua atau orang yang dia rasa nyaman untuk di telepon. Kemudian bantu dia untuk menelepon.

Bipbip Your Kids

Setelah talkshow dengan mba Nina, acara di lanjutkan dengan perkenalan tentang Bipbip Watch dan penawaran dari blibli.com.

Dulu Udjo pernah mikir pengen pasang chip di duo K biar dia bisa pantau terus keberadaan anak. Ternyata gak perlu sampe begitu karena ternyata sekarang udah ada Kids Tracker baru yang lebih mudah di gunakan. Yaitu BipBip Watch.

Bipbip Watch ini bentuknya adalah jam, namun dilengkapi juga dengan GPS, GSM dan signal WiFi untuk keakuratan lokasi. Untuk trackingnya, nanti menggunakan aplikasi yang bisa di download baik di App Store maupun di Play Store.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa langsung cek di website BipBip Watch atau cek di blibli.com aja ya. 🙂

Overall acaranya cukup menarik, informasi yang disampaikan juga cukup menarik (walau bikin merinding). Sayangnya saya kurang beruntung baik di games maupun doorprize jadi gak bisa bawa pulang Bipbip watchnya untuk duo K. Belum rezeki. 🙂

IMG_20150904_064240
foto bersama sebelum bubar. it’s a full house event.

See you on the next event. 🙂

 

4 thoughts on “Ortu Belajar: Is Stranger Danger?

Please leave a comment and I will catch up to you as soon as possible. Thank you.