Tentang Gigi

Sebenernya seberapa banyak sih yang kita tahu tentang gigi anak? Seberapa pentingnya merawat gigi anak? Penyakitnya apa aja? Dan bagaimana cara merawat gigi anak? Itu adalah beberapa pertanyaan yang sering ada di kepala saya dan betapa senangnya saya ketika menerima undangan dari Rumah Sakit Pondok Indah untuk datang ke blogger gathering pertama mereka di Luna Negra beberapa waktu yang lalu untuk membahas hal-hal tersebut.

Acara hari itu di awali dengan makan malam bersama sekalian perkenalan singkat untuk mencairkan suasana supaya para peserta merasa nyaman. Dari beberapa gathering yang pernah saya datangi, ini adalah salah satu gathering yang paling berkesan karena baik peserta maupun nara sumber bisa ngobrol lebih banyak sehingga banyak pertanyaan yang bisa di tanyakan sampai puas. ๐Ÿ™‚

Setelah selesai makan malam, acara langsung di buka oleh Public Relations Manager Rumah Sakit Pondok Indah, Hestia Amriyani. Setelah sedikit kata sambutan, acara di lanjutkan dengan sharing session oleh Drg. Suzanty Ariany Sp.KGA.

Drg. Suzanty menjelaskan bahwa pembentukan gigi susu anak itu sebetulnya sudah di mulai sejak masa kehamilan, yaitu ketika janin masih berusia 4 bulan. Beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan gigi susu antara lain nutrisi, infeksi, kelahiran prematur, obat-obatan dan sinar X.

Setelah bayi lahir, biasanya gigi susu akan mulai tumbuh ketika bayi berusia kurang lebih 6 bulan. Beliau menjelaskan, walaupun di sebutkan mulai tumbuh ketika usia kurang lebih 6 bulan, namun itu bukan menjadi patokan. Karena bisa berbeda antara bayi yang satu dengan bayi yang lain. Jadi jangan khawatir ya Mama kalau bayinya sudah berusia lebih dari 6 bulan tapi belum mulai tumbuh juga gigi susunya. Gigi susu ini biasanya akan tumbuh dengan lengkap di usia 2,5 – 3 tahun. Jumlahnya ada 20 gigi, yaitu 10 buah gigi atas dan 10 buah gigi bawah. Ketika gigi susu akan tumbuh, biasanya di awali dengan adanya benjolan pada gusi bawah dan perlahan akan muncul gigi putihnya. Pada fase ini, biasanya bayi akan sedikit gelisah dan mengeluarkan air liur lebih banyak serta mencari-cari mainan yang bisa di gigit. Untuk meredakan keluhan ini, bisa di berikan mainan yang aman untuk di gigit-gigit atau mama bisa memberikan buah dingin atau sayuran dingin untuk di gigit-gigit.

Gigi manusia akan melewati 3 fase, yaitu fase gigi susu dimana gigi susu mulai tumbuh (-/+ 6 bulanย  sampai -/+ 6 tahun), fase gigi bercampur yaitu ketika gigi susu mulai tanggal dan mulai tumbuh gigi permanen (-/+ 6 tahunย  sampai -/+ 12 tahun), dan fase gigi permanen yaitu ketika gigi susu anak sudah seluruhnya tanggal dan seluruhnya sudah di gantikan dengan gigi permanen (-/+ 12 tahun ke atas).

Menjaga kebersihan dan merawat gigi susu anak amatlah penting karena bisa mempengaruhi kesehatan, tumbuh kembang dan kecerdasan anak. Lebih jauh lagi, menjaga gigi susu amatlah penting karena gigi susu adalah penentu arah tumbuh gigi permanen, di perlukan untuk menjaga ruangan untuk gigi permanen, dapat mempengaruhi pertumbuhan wajah, mempengaruhi pencernaan makanan anak, mempengaruhi cara bicara, estetika dan yang paling penting adalah karena merupakan cikal bakal pembentuk lingkungan untuk gigi permanen.

Salah satu masalah yang sering terjadi pada anak namun luput dari perhatian adalah Baby Bottle Caries/Early childhood caries/Nursing Caries. Biasanya terjadi pada anak berusia kurang dari 3 tahun. Dan bagian gigi yang terkena adalah gigi depan atas, geraham atas dan geraham bawah. Gigi depan bawah anak biasanya tidak terkena karena proses ketika bayi minum susu botol atau menyusu, gigi depan bawah biasanya terlindungi oleh lidah karena lidah akan menekan ke langit-langit mulut.

 

Prosesnya di awali dengan bercak putih di bagian atas gigi yang jika didiamkan nantinya akan berubah menjadi coklat dan pada akhirnya akan membuat gigi berlubang. Baby Bottle Caries/Nursing Caries ini biasanya terjadi pada anak yang meminum susu atau menyusu saat akan tidur sehingga anak tertidur dengan kondisi mulut tidak bersih. Beberapa cara untuk mencegahnya adalah dengan membiasakan anak untuk tidak minum susu sambil tiduran, gunakan cangkir untuk minum susu, beri air putih, bersihkan gigi dan mulut sebelum anak tidur (bisa dengan sikat gigi, kasa atau tooth wipes), dan berikan anak susu yang tidak mengandung gula/sukrosa yang tinggi. Intinya adalah, jangan biarkan anak tidur dengan kondisi gigi atau mulut yang kotor.

Dan pas lagi di jelasin ini, langsung teringat sama gigi K2 yang sudah mulai ada bercak putihnya. Harus lebih di perhatiin lagi nih. Apalagi K2 kalau di ajak sikat gigi masih agak susah. Heboh berat. Oh iya, Drg Suzanty juga menyebutkan bahwa anak bisa di anggap mampu untuk membersihkan gigi sendiri itu ketika dia sudah berusia di atas 10 tahun. Sebelum itu, masih harus terus di kontrol ya. Dan cara yang benar untuk membantu menyikat gigi anak adalah dengan mengambil posisi di belakang anak. Tengadahkan kepala anak sedikit untuk membersihkan giginya. Dengan mengambil posisi di belakang anak, kita akan terhidar dari kemungkinan menyodok mulut anak dan dapat membersihkan dengan lebih jelas karena seluruh area mulut dapat terlihat dengan lebih mudah.

Seiring dengan pertumbuhan anak, nantinya akan ada banyak masalah yang dapat kita hadapi terutama yang berhubungan dengan kebersihan gigi dan mulut. Beberapa kebiasaan yang perlu dihindari dan diperhatikan agar tidak berkelanjutan diantaranya adalah:
  • Penggunaan Empeng
  • Mengisap jari
  • Tongue Thrusting atau menjulurkan lidah pada saat berbicara atau menelan makanan
  • Mengisap bibir
  • Bernapas melalui mulut

Setelah Drg Suzanty, sharing di lanjutkan oleh Drg. Andi Gatot Wijanarko, SpOrt seorang spesialis Orthodonsia. Drg. Andi menjelaskan lebih lanjut mengenai beberapa hal yang akan dapat terjadi pada pertumbuhan mulut, gigi dan wajah anak jika kebiasaan buruk yang di sebutkan di atas terjadi berkelanjutan. Oh iya, selain kebiasaan buruk di atas, faktor genetik juga berpengaruh pada pertumbuhan gigi dan wajah anak ya. Jadi bisa saja terjadi kelainan yang di sebabkan oleh genetik, bukan kebiasaan buruk. Menurut drg Andi, intervensi atau perbaikan bisa di mulai setelah gigi permanen anak tumbuh atau ketika berusia 12 tahun. Dan akan lebih efektif jika intervensi itu di lakukan sebelum anak mengalami akil balik.

Beberapa kelainan Orthodonsi yang biasa terjadi antara lain:

  • Anterior crossbite
  • Posterior Crossbite /ย Anterior Crossbite
  • Crowding of teeth
  • Deepbite
  • Overjet
  • Open-bite
  • Impacted upper canines
  • Submergence /ย Upper canines
  • Thumb and Finger-sucking Habits
  • Missing teeth

Untuk menangani kelainan-kelainan di atas memerlukan tahapan dan proses yang berbeda. Namun biasanya akan di awali dengan pengambilan gambar gigi secara panoramic untuk mengetahui letak gigi secara lebih detail sehingga dapat di cari penyebabnya dan juga di cari solusi untuk penanganannya. Drg. Andi juga memberikan beberapa contoh kasus yang sudah pernah di tanganinya dan hasilnya cukup signifikan bahkan dalam hitungan hanya beberapa bulan saja. Oh iya, menurut Drg. Andi, hasil dari perbaikan tersebut akan bisa bertahan jika di dukung dengan perbaikan kebiasaan. Jadi jika setelah di perbaiki kelainannya namun kembali ke kebiasaan buruknya, maka akan dapat terjadi kelainan lagi walaupun biasanya tidak separah yang awal. Jadi selain komitmen untuk menjalankan proses perbaikannya, pasien juga harus memiliki komitmen untuk mengubah kebiasaan buruknya supaya hasilnya bisa maksimal.

Untuk merawat gigi anak dalam jangka panjang memang agak tricky, terutama ketika anak masih sering tidak telaten dan moody. Namun, menurut Drg. Andi, salah satu faktor yang menjadi pendorong anak untuk komitmen dalam menjalankan perawatan adalah ketika di hadapi dengan faktor estetika. Karena anak akan menjadi lebih telaten dan komitmen ketika ia melihat perbaikan yang akan dan dapat terjadi pada penampilannya.

Tidak terasa hari sudah semakin larut dan akhirnya acarapun harus di akhiri. Namun seneng banget karena cukup banyak pertanyaan yang dapat di jawab dari acara gathering kali ini. Jadi makin semangat untuk lebih memperhatikan lagi kondisi gigi K1 dan K2 dan juga untuk ajak K1 dan K2 rutin kontrol ke dokter gigi.

Terima kasih ya Rumah Sakit Pondok Indah untuk undangannya. ๐Ÿ™‚

14 thoughts on “Tentang Gigi

  1. waa… aku ga jd dtg acara ini krn ga ada yg jaga bocil, pdhl bgs yaa ilmunya. iya tuh, kesehatan gigi emang penting bgt u dijaga sedari kecil ya..

    1. Iya.. Ilmunya bagus dan kmrn puas nanya2nya. Betul.. Emang ternyata kudu mesti di jaga dari kecil. Jd harus lebih rajin mandorin bocah nih. ๐Ÿ™‚

    1. Iya, untuk anak usia segitu memang masih suka telen odol. Anakku juga gitu. Makanya harus cari odol yang aman kalau di telan. Dan kmrn dr. Suzanty bilang kalau masih di telan, odolnya yang penting harus bebas dari flouride supaya aman. ๐Ÿ™‚

  2. Ngajain anak–anak sikat gigi emang susah. Moody. Tapi Alhamdulillah, berkat sikat gigi yang lucu dan odol yang manis, akhinya jadi terbiasa juga. Tapi gitu, odolnya masih sering ditelen ๐Ÿ˜€

    1. Hehehehe.. Terima kasih mak. Kebetulan kalo yg ini gak di instruksiin mak. Emang mereka hepi berat dapet sikat gigi baru. Dan emang lagi main sm sikat giginya. Jadinya emaknya tinggal foto2in aja. ๐Ÿ™‚

Please leave a comment and I will catch up to you as soon as possible. Thank you.