TUM Ngopi Cantik: Memaksimalkan Manfaat Social Media

Sabtu kemarin aku ikutan lagi acaranya The Urban Mama. Kali ini acaranya adalah Ngopi Cantik alias Ngobrol Pintar (bikin) Cantik yang membahas mengenai Memaksimalkan Manfaat Social Media untuk para mama. Pembicara yang akan sharing kali ini adalah Nukman Luthfie (@nukman), seorang pengusaha di bidang internet marketing yang kebetulan juga sangat menyukai kopi. Acaranya di adain di Trafique Coffee, Kebayoran Baru. Ini adalah pertama kalinya aku ke tempat ini, dan ternyata tempatnya enak yaa.. Interior designnya juga cantik. Banyak spot bagus untuk foto *tetep ya*. 🙂

DSC04537
Yellow Entrance

Acaranya di mulai jam 10 pagi, dan pas banget aku sampai disana, baruuu aja di mulai. Jadi begitu sampai langsung duduk manis dan menyimak sharingnya. 🙂

Untuk mengawali sharingnya, pak Nukman bertanya ke para mama, sebenernya kita pakai social media itu untuk apa sih? Ada banyak jawabannya. Ada yang untuk bisnis, untuk eksis, untuk interaksi, cari informasi, dan lain sebagainya.  Social media yang di gunakan juga beragam. Ada yang di twitter, path, instagram dan lain sebagainya. Macem-macem. Ada yang cuma satu, ada yang semuanya dipake. Dan ngomong-ngomong tentang social media, menurut hasil riset, ternyata orang Indonesia itu termasuk salah satu pengguna social media yang terbesar loh. Dan karena itu, Path akhirnya buka kantor di Indonesia. Ternyata yaaa.. Banyak yang doyan “nyampah” di social media. Hehehehe. 🙂

DSC04515

Dalam menggunakan social media ada beberapa poin yang harus kita perhatikan. Antara lain, kita harus mengetahui jenisnya (tempat berbagi) dan batasannya. Sebagai contoh, di twitter, kita bisa mendapatkan banyak informasi. Baik itu yang penting sampai yang gak penting. Dalam menggunakan twitter, kita sebaiknya tidak berbagi mengenai hal-hal yang bersifat terlalu personal dan juga emosional. Karena bisa tersebar luas dan berdampak tidak baik ke kita. Selain itu, dalam menggunakan twitter, kita juga sebaiknya tidak terlalu “serius”. Jadi kalo ada yang ngajakin “twitwar”, gak usah pake emosi yaa.. Menurut pak Nukman, twitter itu adalah salah satu media paling mudah untuk mencari ide yang bertentangan dengan ide kita. Di twitter kita bisa beradu gagasan dengan pengguna lain. Tapi harus diingat, jika mau beradu gagasan, kita juga harus punya referensi yang mendukung yaa.. Jadi jangan “Tong Kosong Nyaring Twit-nya.” 🙂 Dan bagi pak Nukman sendiri, salah satu hasil twitwar yang berguna adalah mengenai pengasuhan anak. Dari hasil twitwar itu pak Nukman mendapat beberapa referensi mengenai pengasuhan yang akan di terapkan kepada anak-anaknya. Makanya, kalo twitwar gak usah pake emosi. Soalnya kan tujuannya buat “memperluas gagasan” bukan buat berjibaku. Jadi santai aja. Jangan terpancing. Apalagi sampai menulis kata-kata kasar dan merendahkan. Harus diingat, dari hasil riset, twit seseorang yang sedang emosi biasanya tingkat kemarahannya akan naik 30%. Hal ini di sebabkan ya tak lain karena yang menulis tidak berhadapan langsung dengan lawannya. Jadi naik deh tingkat kemarahannya.

Seriusss
Seriusss

Untuk beberapa media sosial seperti Facebook dan Path dimana kita biasanya menerima “permintaan pertemanan”, sebaiknya kita lebih selektif dalam menerima “pertemanan” tersebut. Karena jika kita tidak selektif, itu bisa berdampak negatif terhadap kita. Pernah denger kan berita tentang penipuan dari Facebook, dan kejahatan lainnya yang awalnya bermuara dari pertemanan baru di Facebook. Atau tentang screen capture moment di Path yang tersebar ke sejagat raya. Nah makanya harusss selektif. Selain itu, baik di Path, Facebook maupun social media lain, kita juga harus bisa selektif untuk membagi informasi pribadi mengenai kita. Karena tidak selalu orang yang menjadi “teman” di social media kita suka terhadap kita ataupun “kicauan” kita. Bisa aja kan di screen capture trus di sebarin. Kayak yang udah sering kejadian ini. Bisa aja awalnya maksud baik di screen capture tapi ternyata setelah banyak beredar malah kacrut ujung-ujungnya. Well.. Pernah juga sih kena screen capture Path aku tersebar kemana-mana. Tapiiii.. Sayangnya gak kece deh. Gara-gara maling. *sigh* Anyway.. Lupakan saya, balik lagi ke social media.

Selain untuk kicauan dan sharing biasa, kita juga bisa sharing mengenai sisi profesional kita. Tempatnya di Linked In. Nah kalo disini, kita akan sharing mengenai sisi profesional kita. Dan orang yang “mengetahui” tentang kita, bisa memberikan “pengakuan” terhadap kemampuan kita. Dan inilah yang biasanya akan dicari oleh para agensi atau orang yang membutuhkan informasi mengenai sisi profesional kita.

Dalam menggunakan social media, kita juga bisa membangun persepsi orang terhadap kita. Jadi sebenernya apa sih tujuan yang kita mau. Persepsi seperti apa yang kita mau tunjukkan pada orang lain. Apakah sebagai blogger, ahli social media, buzzer, endorser, dan lain sebagainya. Ini harus di ingat karena dalam social media, nilai kita dilihat dari persepsi orang terhadap kita. Supaya kita bertambah wawasannya, sebaiknya follow orang-orang yang sekiranya dapat memberi nilai tambah ke kita. Tapi jangan cuma follow aja ya, sebisa mungkin lakukan juga interaksi kepada orang yang kita follow. Interaksi yang dilakukan harus kontekstual atau sesuai dengan apa yang di bicarakan. Bisa jadi karena “samberan” kita itu, yang kita follow jadi tertarik dan akhirnya follow kita balik tanpa kita harus minta “Follbacknya dong kakaaaaaak.” 🙂

Di social media, kita bisa berbagi mengenai hal-hal yang menjadi keahlian/tujuan/branding kita. Selama 30% dari sharing/kicauan kita berisi mengenai hal tersebut, masih bisa di anggap normal alias masih dalam jalurnya. Jadi kita juga harus inget deh, hari ini kita udah “nyampah” berapa banyak yang di luar jalur. Social media bukan hanya tempat untuk broadcast saja, tapi juga untuk enggagement dengan orang lain, jadi bukan cuma ke orang yang kita follow aja, kita juga harus interaksi ke orang yang follow kita. Cara kita merespon dalam socialmedia tentunya tergantung juga dari lingkungan sosial dan kebiasaan kita ya. Dan jika kita mau menjadi buzzer, sebisa mungkin juga selektif terhadap apa yang kita pilih. Jangan semuanya hayoh wae di terima. Harus selektif dan realistis. Kalo emang doyan olahraga trus di tawarin buat jadi buzzer sepatu olahraga ya terima, tapi kalo gak doyan, ya jangan maksain. Terima produk/job sebagai buzzer yang sesuai dengan karakter dan kebiasaan kita. Kalau ternyata ada yang mengirimkan barang ke kita tapi ternyata tidak sesuai dengan kita, kita bisa berterima kasih dengan foto produknya dan mention akun yang bersangkutan. Gak perlu sampe di promosiin kalo emang kita sendiri gak pake dan gak sesuai. Malah jadinya munafik euy. Samapun dengan permintaan pertemanan. Kalo emang ternyata gak suka, ya gak usah di terima permintaan pertemanannya itu. As simple as that. 🙂

Sebagai orang tua, kita harus inget, social media itu adalah salah satu tempat untuk orang dewasa interaksi. Bukan untuk anak-anak. Anak-anak itu interaksinya di lapangan, di sekolah dan di tempat bermain lainnya. Intinya mah di dunia nyata yaa bukan dunia maya. Makanya di social media ada batasan umur. Tidak boleh digunakan oleh anak di bawah 13 tahun. Nah kalo emang ternyata anaknya udah terlanjur pakai, yang paling simpel ya di ambil alih aja akunnya. Gak usah di delete. Kita ambil alih aja. Nanti kalau dia udah cukup umur, baru di kembalikan ke dia. Ini juga salah satu pencegahan supaya dia tidak terpapar dampak negatif dari social media. Dan kalo udah di balikin, tentu saja kita tetep harus awasi penggunaannya yaa. Jangan di lepas gitu aja. Tetep harus di bawah pengawasan orang tua.

Dan untuk menutup sesi sharing ini, pak Nukman berpesan, di balik orang-orang yang sukses, ada orang lain yang berperan dalam membantu kita meraih kesuksesan kita itu. Dan mereka adalah mentor dan booster yang luar biasa. Oleh karena itu, selektiflah dalam memilih orang-orang yang akan kita jadikan “panutan/mentor” kita. Pilih orang yang dapat membuat kita menjadi lebih baik, dan juga bisa membimbing kita jika kita membutuhkan bantuan/bimbingan. 🙂

Ternyata ngobrol tentang social media ini seru bener yaa.. 1,5 jam terasa berlalu begitu aja. Dan akhirnya tiba waktunya untuk… Makan brownies dan minum teh dari Trafique Coffee. 😀

DSC04517

DSC04528Setelah itu tentu saja tak ketinggalan untuk foto-foto sama para mama yang hadir di sana. 🙂

B-aQR6pCEAAikiX
Picture from The Urban Mama

It was fun and insightful indeed. 🙂

 

10 thoughts on “TUM Ngopi Cantik: Memaksimalkan Manfaat Social Media

Please leave a comment and I will catch up to you as soon as possible. Thank you.