Ibu, Cinta Tanpa Akhir

Kalau ngomongin tentang Ibu, rasanya gak bakalan selesai-selesai yah. Kayaknya banyaaaak banget yang mau di omongin. Dan setelah jadi ibu, aku jadi makin sayang dan menghargai perjuangan mama merawat kami dari kecil dan juga perjuangannya untuk keluarga kami.

Masih inget banget waktu aku mau melahirkan K, mama buru-buru dateng ke rumah sakit dari acara pernikahan saudara. Harusnya hari itu mama jadi MC. Tapi karena aku udah check-in di rumah sakit, langsung pamit deh.
Waktu itu mama masuk ke ruang observasi dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Usap-usap wajah dan perutku, bibir komat kamit berdoa dan tatapan yang seakan meminta supaya sakit yang aku rasakan bisa berpindah ke mama. Ya.. Segitu dalamnya cinta seorang ibu sampai bahkan di saat anaknya mau menjadi ibu, jika bisa, ia rela mengambil rasa sakit yang di rasakan anaknya.
Sambil menemani aku melalui proses pembukaan yang panjang itu, mama tak henti-henti berdoa. Dan ajaibnya, usapan mama di punggung dan pinggang aku seakan obat yang bisa meredakan rasa sakit yang datang silih berganti.
Karena menurut perkiraan dokter masih lama, mama pamit pulang untuk ganti baju, istirahat sebentar lalu bawa barang-barang aku yang masih ketinggalan di rumah. Sebelum pulang, mama berpesan panjang lebar dan berdoa di samping aku.
Ketika akhirnya aku diputuskan harus sectio, sebelum waktu yang di tentukan, mama sudah kembali lagi di samping aku, berdoa dan memeluk aku erat-erat.
Ketika aku keluar dari ruang operasi, mama sudah menanti, dengan wajah berlinang air mata dan senyum penuh arti. Senyuman bahagia karena anaknya sudah siuman, keluar dari ruang operasi dan juga karena sudah melihat cucu pertamanya.
Mama langsung memeluk aku dan mengucapkan selamat karena kini aku sudah menjadi seorang ibu.
Di awal aku menjadi ibu, mama membantu aku merawat K. Dari memandikan sampai menimangnya ketika aku masih agak kesulitan bergerak cepat karena luka sectio.
Di saat aku mau melahirkan baby K, mama juga yang kaget bukan main karena hasil periksa terakhir aku harus sectio lagi. Sebelum aku berangkat ke rumah sakit, mama minta waktu untuk mendoakan aku dan kandunganku.
Ketika aku keluar dari ruang operasi, mama juga sudah menanti. Dengan wajah bahagia, dan senyum penuh arti. Selama aku di rumah sakit, mama setiap hari datang dan membawa K. Membantu aku juga menjaga K selama aku belum pulih.
Tidak dulu, tidak sekarang, cinta mama untuk anak-anaknya tiada berujung. Kalau anaknya sedih, mama lebih sedih, jika anaknya bahagia, mama lebih bahagia. Jika anaknya sedang jatuh, mama menguatkan. Memang benar ya.. Cinta ibu itu tiada akhir..
No painter’s brush, nor poet’s pen
In justice to her fame
Has ever reached half high enough
To write a mother’s name.
~Author Unknown
Selamat Hari Ibu untuk mama tersayang dan juga untuk semua ibu yang cintanya setinggi langit, seluas lautan, sedalam samudra dan tiada akhir. Let’s celebrate this day with love, joy and happiness.

2 thoughts on “Ibu, Cinta Tanpa Akhir

Please leave a comment and I will catch up to you as soon as possible. Thank you.