Seminar Pengasuhan Anak “Disiplin Dengan Kasih Sayang” part 2

Aku lanjutin lagi yaa.. tentang Disiplin Dengan Kasih Sayang.. Melanjutkan dari part 1 nya. Aku pisah supaya gak kepanjangan.. Hehehe.. 😀

Fungsi disiplin adalah memberitahukan kepada anak: 

  1. Hal apa yang orang  tua ingin dilakukaan oleh anak dan  mengapa orang tua menginginkannya? 
  2. Hal yang orang tua tidak ingin dilakukan anak dan mengapa tidak boleh? 

Kedua hal diatas kemudian akan membentuk kebiasaan dan meninggalkan kenangan.

 Pendekatan Disiplin dengan Kasih Sayang (DKS)

Pendekatan DKS di gunakan oleh orang tua untuk mengambil keputusan yang :

  1. Mencegah atau berespon terhadap kenakalan anak atau tingkah lakunya yang tidak patut.
  2. Mempertimbangkan perasaan dibalik perilaku, membantu anak memiliki kesadaran diri dan perlahan menggunakan pikirannya, baru mengambil tindakan yang akan menguatkan baik harga diri maupun rasa tanggung jawab anak
  3. Menekankan pada proses belajar, sehingga mencapai makna sebenarnya dari kata DISIPLIN

Keunikan pendekatan disiplin dengan kasih sayang adalah:

  1. DKS = Pikirkan Perasaan Anak.
  2. DKS = Mengajukan pertanyaan untuk mengubah tingkah laku
  3. DKS = Ajarkan keterampilan untuk tidak mengulangi tingkah laku negatif.
  4. DKS = Gunakan kalimat-kalimat singkat dan aturan 2 kalimat
  5. DKS = Fokus pada hal yang positif

Manfaat menggunakan 5 langkah DKS adalah :

  • Memahami cara berpikir anak untuk bisa mendisiplinkannya
  • Beralih dari model hukuman yang menyakitkan ke model pendisiplinan yang efektif dan  tidak merusak harga serta kepercayaan diri anak
  • Memahami mengapa anak menjadi ‘nakal kronis!’ dan menghindarinya.
 Pendekatan I DKS = Pikirkan Perasaan Anak


Ada beberapa anggapan yang keliru tentang tingkah laku, yaitu Segala tingkah laku berkaitan dengan pemikiran dan kita percaya semua orang selalu memikirkan apa yang mereka lakukan: SEBELUM, SELAMA dan SETELAH mereka melakukan sesuatu. Padahal sebagian besar tingkah laku didorong oleh PERASAAN/EMOSI dari pada hasil PEMIKIRAN. Jadi apakah anak tetap harus dihukum karena kesalahan mereka?

 POLA TERJADINYA SUATU TINGKAH LAKU

Dari pola diatas, yang perlu diingat adalah :

  • Perasaan mengarahkan tingah laku
  • Pada anak-anak : E-P-A berlangsung E-A-P
  • Emosi berkaitan dengan kebutuhan, pikiran dikesampingkan.
  • Pikirkan perasaaan anak ketika mendisiplinkannya. Lihatlah suatu tingkah laku dari sudut pandang atau perspektif anak juga. Jangan selalu melihat dari sudut pandang anda.
Ada dua aspek perasaan yang harus diperhatikan yaitu perasan apa yang mendorong kelakuan/perbuatan anak, dan bagaimana perasaan anak setelah pendisiplinan terjadi (jangan sampai anak merasa terhina, bodoh dan takut).
Tujuan dari memperhatikan perasaan adalah :
  • Kasih sayang dan pengakuan terhadap perasaan anak. Hal ini membantu mereka memperhatikan perasaannya sendiri.
  • Membantu mereka menyadari perbedaan pikiran dan perasaan.
  • Perasaan dan pikiran penting dan perlu untuk proses pengambilan keputusan yang baik.
  • Belajar sadar akan perasaan orang lain.

3 hal agar disiplin merubah tingkah laku.

  • Pertama: Orang tersebut harus menyadari PERASAAN yang mendorong mereka melanggar peraturan
  • Kedua: Mereka harus mampu MEMIKIRKAN apa yang mereka lakukan dan yang mungkin terjadi dari perbuatannya, apa akibatnya untuk orang lain.
  • Ketiga: Harus mampu memperhitungkan bagaimana caranya tidak semata² karena dorongan perasaan

Jadi, bila anak bertingkah laku tidak sesuai dengan harapan, yang harus dilakukan adalah:

  • STOP
  • LIHAT dan DENGAR
  • PIKIRKAN : Apa perasaan yang mendorong perbuatannya?
  • BERTINDAK

Untuk mendisiplinkan anak hendaklah: PIKIRKAN PERASAANNYA! Kemudian Pelan-pelan alihkan ke pikiran (sehingga membuat anak menghargai proses berpikir), sehingga pola tingkah lakunya tidak lagi E-A-P, tetapi belajar menjadi E-P-A.

Mengapa perlu memperhatikan perasaan?

  • Kasih sayang dan kepercayaan : Alat yang sangat efektif untuk kedisiplinan karena anak akan mengembangkan keyakinan tentang kepercayaan kita terhadapnya tersebut baik untuk diri mereka maupun orang lain.
  • Kasih sayang dan pengakuan terhadap perasaan anak akan membantu mereka memperhatikan perasaannya sendiri dan menyadari perbedaan pikiran dan perasaan.
  • Perasaan dan pikiran sangat penting dan perlu untuk proses pengambilan keputusan yang baik. Emosi menandai awal dan akhir rangkaian peristiwa.
  • Perasaan adalah indikator yg sangat penting tentang apa yang terjadi ~ disebut INTUISI (berkembang diusia 4-6 tahun).
  • Kita suka abaikan perasaan karena ‘tidak nyaman’ dengan bahasa perasaan – bahasa respek.
  • Kemampuan untuk menyelaraskan emosi dengan orang lain adalah keterampilan yang harus dipelajari dan dimulai dengan kesadaran akan emosi kita sendiri setelah itu baru belajar sadar akan perasaan orang lain.

Menurut penelitian, yang membuat anak bandel adalah :

  • Anak tidak pernah didengar dan diterima perasaannya » membuatnya selalu marah, merasa tidak dimengerti » Kemudian terjadi pertengkaran lisan dengan orang tua atau guru.

Dan pada akhirnya yang membuat remaja bandel adalah :

  • Remaja kebal terhadap hukuman,
  • Menyesuaikan diri dengan kehidupan tanpa hak istimewa
  • Jadi tdk peduli dengan semua situasi
  • Lebih suka dihukum
  • Hukuman tidak lagi punya pengaruh yg diinginkan,
  • Double Standard!

Yang dibutuhkan remaja adalah :

“Ke S-A-B-A-R an orang tua, Ketekunan, Teladan » Anak akan belajar menjauhkan dirinya dari emosi yang meledak-ledak » Masuk ke pikiran yang sehat dan efektif » Perilaku yang terkendali”
Pendekatan II DKS = Mengajukan Pertanyaan untuk Mengubah Tingkah Laku

Mengapa anak sulit mengendalikan tingkah laku?

  1. Anak jarang memperhatikan situasi sekitarnya bahkan diri sendiri.
  2. Anak tidak memahami apa yg terjadi dan,
  3. Tidak sadar apa yang mungkin mereka lakukan.
  4. Mengetahui peraturan tidak sama dengan menyadari dan menginsyafi yang dikatakan orang
  5. Lupa (yang tidak sama dengan TIDAK PERDULI).

Prosesnya adalah

Bertanya » Harus menjawab » Berfikir » Memeriksa diri » Kesadaran diri

Kesadaran diri adalah dasar disiplin .Tetapi hendaklah diingat juga, pertanyaan tidak dilakukan dengan sinisme
Otoritas Internal vs Otoritas Eksternal :
  • Kalau anak hanya memperhatikan orang tua atau otoritas eksternal, anak akan bermasalah ketika harus mengembangkan kesadaran internal tentang apa yang harus dilakukan ketika ortu tidak ada
  • Otoritas eksternal penting » keselamatan hidup, misalnya: Tidak menyebrang sembarangan, Tidak bermain dengan api.
  • Otoritas internal » sadar diri, menyadari apa yang sedang dilakukan, mengambil keputusan bagaimana respons tepat/atau yg terbaik tanpa harus diberitahu orang tua.
  • Kesadaran diri adalah awal pengembangan otoritas internal

Syarat Bertanya :

Tidak dalam nada: menuduh,menyindir, menunjukkan bahwa anak bodoh dan; tidak paham » Membuat anak membela diri » Tidak mengundang perhatian anak terhadap tingkah laku mereka. (kadang membutuhkan waktu yang lama untuk remaja menyadari bahasa tubuhnya).

LANGKAH-LANGKAH DISIPLIN:

  • Buat aturan
  • Sepakati bersama
  • Diterapkan
  • Konsekuens – Evaluasi

Dasar merumuskan aturan, katakan pada anak mengapa aturan perlu:

  • “Ayah & Ibu sayang dan perduli sama kamu”
  • “Kami ingin kau terlindungi dan aman”
  • “Kami menginginkan budi bahasamu baik”
  • “Kami ingin kamu mandiri dan bertanggung jawab”
  • “Kami ingin kamu tahu bagaimana belajar hidup bersama orang lain dan menyenangkan”

KUNCI MEMBUAT ATURAN

  • Aturan merupakan seperangkat harapan terhadap anak berupa panduan dan batasan
  • Didasari oleh kepedulian dan cinta
  • Yang penting dulu, satu-satu.
  • Batasan, harus jelas alasannya
  • Masuk akal
  • Libatkan anak (ketika sudah memungkinkan)
  • Jelas dan positif
  • Konsisten
  • Konsekuensi

Ada dua jenis Konsekuensi, yaitu konsekuensi alamiah (jika tidak makan bisa lapar, dll) dan konsekuensi logis (jika main air, basah dan lantai licin).

Penerapan Aturan:

  • Saling respek
  • Jelaskan aturan dan pastikan anak mengerti
  • Minta anak mengulanginya
  • Pastikan aturan sangat perlu
  • Ceritakan: agar anak mengerti konsekuensi
Pendekatan III DKS = Ajarkan Keterampilan untuk Tidak Mengulang Tingkah Laku Negatif

Pentingnya mengajarkan ketrampilan mengatasi emosi/kendali diri dan keterampilan sosial:

  •  Komponen ‘mengajarkan’ sering diabaikan dalam ‘pendisiplinan’ anak
  •  Orang dewasa harus membantu anak danremaja mengembangkan kemampuan yang mereka perlukan untuk mencegah mereka mengulang tingkah laku negatif
  • Mereka harus DIAJARI untuk TIDAK bereaksi atas dasar emosi, bisa memikirkan konsekuensi dan bagaimana membantu diri sendiri melakukan apa yang mereka tidak suka

Tujuan mengajarkan keterampilan untuk mengatasi emosi:

  • Untuk tetap di jalur yang benar dan hidup sehat secara produktif
  • Untuk menenangkan diri saat mereka sangat marah/sedih
  • Untuk menggunakan kata-kata dan bukan aksi
  • Untuk menaati aturan yang tidak mereka setujui/tidak mereka suka
  • Untuk memperhatikan perasaan  dan ruang orang lain
  • Untuk tetap fokus
  • Untuk berhenti saat mereka merasa tdk ingin berhenti
  • Untuk membuat mereka mau mengerjakan sesuatu,bahkan ketika mereka tdk ingin bekerja
  • Untuk menangani frustasi/kecewa
  • Untuk menangani kesuksesan
Tujuan mengajarkan Keterampilan kendali diri/sosial  adalah
  • Untuk merespon orang yang berwenang
  • Untuk bekerjasama dengan orang lain
  • Untuk mengambil gilirannya
  • Untuk bersikap sopan dan penuh hormat
  • Untuk tetap hormat bahkan ketika orang lain bersikap kasar
  • Untuk berkata ‘tidak’ kepada teman sebayanya
  • Untuk meminta bantuan saat mereka membutuhkannya
Cara-cara mengajarkan keterampilan mengatasi emosi/kendali diri dan keterampilan sosial:
  1. Bertanyalah terlebih dahulu
  2. Anak belajar melalui permainan
  3. Berikan contoh yang baik
  4. Memberikan pengertian tentang cara kerja otak E-P-A
  5. Mengkaji ulang tingkah laku yang dapat diterima bersama anak
  6. Temukan keterampilan yang hilang
  7. Bagaimana mengajarkan keterampilan tersebut.
Pendekatan IV DKS : Gunakan Kalimat-kalimat Singkat dan Aturan 2 Kalimat

Ada dua cara mengatasi situasi frustasi dan marah sendiri:

  1. Menggunakan kalimat-kalimat singkat berulang-ulang, daripada ceramah panjang.
  2. Berpegang pada ‘aturan 2 kalimat’. Berhenti bicara setelah mengatakan 2 kalimat. Semakin panjang, semakin diabaikan.
 Alasan mengulangi kalimat-kalimat singkat:
  • Lebih baik menggunakan kalimat pendek untuk menyuruh anak melakukan sesuatu yang benar daripada melarang mereka melakukan yang salah.
  • Lebih efektif mengatakan ‘makan yg sehat’ atau ‘ingat langsing’ daripada ‘jangan makan coklat itu’
  • Pesan rutin ‘jangan’ sangat mudah diabaikan,jadi jangan dipakai.
  • Pesan ‘lakukan’ akan membuat mereka melakukan apa yang kita suruhkan daripada yang tidak boleh dilakukan
  • Segera setelah mendengar pesan positif berkali²,mereka akan mengulang bagi dirinya sendiri. Hal ini membantu karena tidak membutuhkan dorongan dari luar dan tidak membutuhkan banyak tenaga dari orang tua.
  • Kalimat pendek harus: direktif, positif, fokus pada tingkah laku khusus yang perlu dipelajari anak.
  • Kalimat tersebut hanya terdiri dr 2-3 kata, bisa 1 kata, sebaiknya mengingatkan anak untuk mengendalikan diri

KIAT-KIATNYA:

  • Kata-kata singkat menjadi ‘rambu-rambu lisan’ bagi anak.
  • Ulangi kata-kata mantap dan positif karena bila beralih ke nada marah dan tajam, menimbulkan reaksi emosional anak bukan proses berpikir
  • Tujuannya adalah supaya anak terbiasa berpikir
  • Jangan menggunakan kalimat direktif yang dikaitkan dengan potensi pribadi anak
  • Hindari mengomentari ketidakmampuan anak untuk bertindak tepat atas inisiatif sendiri. Misalnya: ‘Kok adek gak bisa sih?’
  • Kalimat pendek – ya pendek! Tidak dilekatkan pada kata/komentar lain, karena akan kehilangan kekuatan dan tidak efektif sebagai alat disiplin.
  • Agar penggunaan kalimat pendek berhasil,anak harus terlatih untuk mengerti apa yang diharapkan untuk dilakukan saat ia mendengarnya
  • Jelaskan dan buat kesepakatan terlebih dahulu. Misalnya: “Mulai saat ini dan seterusnya kalau mama bilang ‘tetap kerjakan’ itu berarti kamu harus kerjakan sampai selesai. Kamu bisa bilang sama dirimu sendiri: “tetap kerjakan tugas‘,jadi kita tidak harus berdiskusi setiap saat perhatianmu beralih, bisa kan?”
“Pilih kalimat dengan hati-hati. Putuskan kalimat apa yang paling berhasil untuk suatu situasi. Ingat apa yang perlu dipelajari anak Tujuannya adalah membantu anak membangun keterampilan manajemen tingkah laku yg terinternalisasi.”
 Jika kita dapat melakukannya, manfaatnya adalah kita tidak terlibat dalam perdebatan yang panjang dan melelahkan. Hal ini bagus untuk semua pihak. Dapat mengurangi banyak tekanan dan masing-masing tidak dicurangi. Anak-anak juga dapat belajar menerima keputusan yang lebih cepat.
Pendekatan V DKS = Fokuslah Pada Hal yang Positif

Mengapa perlu?

  • Anak suka mengetes kemampuan orang tua dan guru untuk memelihara cara pandang yang positif secara sungguh-sungguh.
  • Kita penting mengetahui kekuatan watak personal dan tingkah laku baik dari anak.
  • Hal ini membantu bagaimana menolong anak menggunakan kekuatan positif mereka sendiri untuk mengatasi dan menghentikan tingkah laku negatif.
  • Menolong anak untuk tidak merasa selalu salah dan jelek dan itu diketahui oleh semua orang.
  • Menunjukkan kepercayaan dan pengenalan bahwa anak memiliki bakat, pembawaan atau watak positif
  • Semakin awal semua hal yang positif pada anak dikenali dan DIAKUI, semakin cepat kelebihan tersebut berkembang
Hal yang perlu diperhatikan adalah

  • Anak-anak peka terhadap harapan orang dewasa, 
  • Berilah harapan positif pada anak kita 
  • Seringlah memuji.
  • Pujilah perbuatannya dan bukan orangnya
  • Pujian sederhana juga berhasil
  • Bantu anak kita melihat masa depan.
  • Menggambarkan masa depan dengan istilah yang emosional

Dan yang paling penting, ketika kita menghadapi anak kita, hadapilah dengan senyuman. Karena dengan tersenyum, kita akan dapat berpikir lebih jernih dan anak juga merasa lebih nyaman. 

Sekian sharingnya, semoga bisa bermanfaat buat kita semua.. :))

4 thoughts on “Seminar Pengasuhan Anak “Disiplin Dengan Kasih Sayang” part 2

  1. Mba, makasih banyak sudah menulisnya dengan lengkap. Jadi saya dan pembaca lain yang ngga ikut seminar ini ikut mendapat berkatnya. <br /><br />Semoga dengan ini kita jadi bener-bener mendidik anak-anak kita dengan tanggungjawab. Pelajaran ini jangan terlupakan. <br /><br />Terima kasih sekali lagi !

Please leave a comment and I will catch up to you as soon as possible. Thank you.