Seminar Pengasuhan Anak “Disiplin Dengan Kasih Sayang” part 1

Sabtu kemarin aku ikut lagi rangkaian seminar Pengasuhan Anak yang di adain sama Supermoms Indonesia. Ini adalah seminar ketiga. Dan kali ini temanya adalah “Disiplin Dengan Kasih Sayang”. Dua seminar sebelumnya sudah aku review juga.

Seperti biasa, ini aku share dari slide + handoutnya dan juga ada beberapa tambahan dari aku sendiri *walau tambahannya juga gak banyak-banyak amat* 😀
Kadangkala, kita dengan mudah mengatakan “kita bisa mendisiplinkan dengan mudah”. Tetapi sebenarnya, disiplin itu tidaklah mudah sama sekali. Ada beberapa sebab mengapa disiplin tidak mudah, yaitu :
  • Karena disiplin adalah masalah terumit di dunia
  • Selain itu juga karena orang tua. :
 o   Seringkali ada dua nahkoda (mama berkata A, papa berkata B, kadangkala tidak sejalan).
o   Perbedaan kepribadian anak dan orang tua (kadang kala kita melupakan usia, kita melihat masalah dari perspektif kita, bukan dari perspektif anak).
o   Orang tua tidak tahu bagaimana cara yang tepat dan benar, kapan dan bagaimana.
o   Ayah dan Ibu cenderung Instan. Instan disini maksudnya jika kita sudah capek dan lelah, kita pada akhirnya cenderung memberikan tuntutan anak tanpa mengingat konsekuensi dan apa akibatnya pada anak. Misalnya ibu tidak mengizinkan anak untuk makan es krim lagi. Ketika sore hari, ayah pulang dalam keadaan capek, lalu anak merengek dan meminta kepada ayah. Karena Ayah sudah capek, cenderung ayah akan langsung memberikan eskrimnya supaya anak tidak merengek lagi.
o   Pengalaman masa kecil yang mempengaruhi gaya disiplin sekarang. Jika ketika kecil ayah atau ibu terbiasa di pukul, dicubit atau di maki-maki, cenderung akan melakukan hal yang sama terhadap anaknya.

 

  • Menyeimbangkan fleksibilitas, pengertian tentang anak dengan batasan yang tegas adalah tantangan yang tidak mudah.
  • Sejauh mana kewenangan kita terhadap anak?
  • Hasil pendisiplinan tidak tampak segera

 

Sebelum masuk ke disiplin, kita juga harus mengerti tentang hukuman dan hadiah. Mengapa hukuman dan hadiah kurang tepat:
  •  Hukuman dan Hadiah kurang efektif karena:
o   Datang dari luar (bukan dari keinginan anak itu)

 

o   Tidak mengajarkan kontrol internal agar perilaku itu tidak terulang

 

o   Tidak mengajarkan anak bagaimana untuk menangani emosi

 

o   Membuat anak berfikir bahwa yang mengendalikan adalah tanggung jawab orang tua.
  • Efektif dibawah usia 7 tahun.

Jika kita telaah lagi, sebenarnya tujuan hukuman dan pemberian hadiah adalah:

  • Hukuman bertujuan untuk menyakiti anak, atau membuat anak merasa menyesal karena telah berkelakuan tidak pantas/baik dengan harapan anak tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
  • Agar efektif, hukuman harus sangat keras sehingga anak tidak mengulang kelakuannya.
  • Hukuman dapat merusak harga diri anak karena menyakitkan secara fisik dan perasaan anak.
  • Tidak efektif jika terlalu sering digunakan.
  • Hadiah membuat anak mengharapkan “pembayaran” atas kerjasamanya.
Sebenarnya dasar dari pemberian hukuman itu adalah karena rasa marah, rasa takut, dan bingung yang dialami oleh orang tua. Hukuman juga tidak mengajarkan anak bagaimana anak harus bertingkah laku sesuai dengan harapan orang tua dan bagaimana untuk bertingkah laku ketika situasi yang sama muncul lagi.
Seringkali kita melihat ada orang tua yang kerap memukul anaknya untuk mendisiplinkannya. Tetapi apakah anda tahu, pukulan tidak hanya menyakiti secara fisik, tetapi juga perasaan anak. Ia akan lebih mengingat pukulan yang diterimanya daripada kebahagiaan yang diberikan oleh anda.
Dari pukulan, anak belajar bahwa “Boleh menggunakan pukulan untuk menyelesaikan masalah”. Jika ini berlangsung. Anak bisa saja menjadi pemarah yang kerap memukuli orang-orang untuk menyelesaikan masalahnya. Bahkan bisa juga memukuli pasangan dan anak-anaknya kelak di kemudian hari.
Pukulan juga mengajarkan anak untuk merasa takut pada orang tua. Padahal, sebaiknya bukan itu yang kita tanamkan kepada anak. Jika mereka selalu merasa takut pada orang tua, mereka tidak akan terbuka. Dan jika tidak terbuka pada orang tuanya, kita tidak akan tahu perilakunya bahkan kelakuannya diluar. Dan itu amat berbahaya. Selain itu, pukulan juga mengajarkan anak bahwa “Mereka Jelek/Jahat/Tidak berguna.” Jadi jelas, pukulan lebih menanamkan rasa ketakutan daripada rasa pengertian.
Ingatlah, bahwa pukulan tidak akan bisa menghentikan perilaku buruk untuk selamanya. Pukulan hanya akan menghentikan kelakuan sesaat. Jika ada kesempatan, tentu saja dapat terulang kembali.
Pukulan juga bisa sebagai cara untuk menyalurkan amarah orang tua. Dan jika ini terjadi, ketika orang tua merasa bersalah, dapat disalah gunakan oleh anak untuk mendapatkan “hak” istimewa setelah dipukul. Dari hasil penelitian, juga terlihat bahwa anak yang kerap kali menerima pukulan akan menjadi lebih agresif.  Mereka akan cenderung berperilaku menyimpang, menuntut pemenuhan kepuasan segera dari semua permintaan, keinginan dan kebutuhannya, mudah frustasi, temper tantrum, lash out physically against others.
Pukulan tidak mengajarkan anak apa yang harus dia lakukan tetapi hanya mengajarkan anak apa yang tidak boleh dia lakukan saja. Padahal tujuan kita untuk mendisiplinkan adalah supaya anak mengetahui apa yang harus dia lakukan.
Pukulan juga tidak akan efektif jika dilakukan terlalu sering. Jika memang anda terpaksa melakukannya, jelaskan alasan mengapa anda memukul anak anda.
Makna Hadiah
  • Hadiah mengajarkan anak bahwa mereka punya hak untuk mengharapkan bayaran untuk melakukan sesuatu, bukan untuk kerjasama.
  • Hadiah memang berakibat lebih baik dan menyenangkan. Tetapi tidak bisa terus menerus *bangkrut boo* 😀
  • Harus dipahami bahwa hadiah bukanlah “sogokan”. Jadi jangan pernah menjanjikan hadiah kepada anak didepan. Berikan hadiah sebagai apresiasi terhadap sebuah prestasi.
  • Hadiah juga tidak harus selalu berwujud benda dan tentunya harus sesuai dengan usia anak anda.
Lalu, sebenarnya mengapa anak bertingkah laku tidak seperti yang anda harapkan. Ada beberapa sebab, yaitu :
  •  Anak belum mampu. Setiap anak memerlukan proses untuk belajar dan itu terjadi secara bertahap. Jadi jangan anda berharap anak anda bisa langsung berperilaku sesuai dengan harapan anda. It’s simply because he/she haven’t had the ability to do it, yet.
  • Anak mungkin : ingin tahu (keingintahuan yang besar terkadang membuat mereka melakukan apa saja sesuka mereka, tanpa tahu apa yang harusnya tidak mereka lakukan), capek, sakit, lapar, bosan,, canggung atau sekedar minta perhatian. Oleh karena itu anda harus senantiasa melihat dan memperhatikan tanda-tanda yang di berikan oleh anak anda.
  • Lagi pengen ngetest dan unjuk diri. Ada kalanya anak ingin mengetahui seberapa besar kesabaran anda menghadapi mereka. Jika itu terjadi, jangan sampai anda terpancing atau terpengaruh.
  • Karena aturan yang di berikan tidak jelas.
  • Mereka telah diberi hadiah untuk bertingkah laku tidak baik
  • Meniru orang tua.
  • Merasa diri tidak berharga
  • Melindungi dirinya

Jadi, apakah disiplin itu ?

 Disciplina and discipulus = Instruction & Student = Petunjuk & Murid  
Maksudnya adalah Disiplin = Mendidik “to educate”, terutama dalam hal perilaku
Perbedaan antara disiplin dan Hukuman
Jadi, makna disiplin adalah mengasuh/mengajar kelakuan.
Disiplin = Membangun kontrol dalam Diri
  • Bertanggung jawab kepada Allah SWT
  • Bisa bekerjasama
  • Memahami perasaan diri dan orang lain
  • Menjadi pribadi yang menyenangkan, dan
  • BAHAGIA
Disiplin sulit dilakukan karena orang tua kurang sepakat, kurang model, kurang sabar, kurang mengerti akar permasalahan, kurang ilmu dan kurang terampil.
 
Dasar Disiplin adalah :
  • Anak merupakan ANUGRAH dan AMANAH ALLAH SWT. Oleh karena itu, rasakanlah kebangaan mendapat kesempatan untuk mengasuh mereka. Perlakuan harus sebaik mungkin. “Muliakanlah anakmu dan ajarkanlah akhlak yang baik.”
  • Perkembangan otak belum sempurna oleh karena itu mereka masih “egosentris” dan berpikir berbeda dengan kita. Maka kita harus bisa melihat dengan sudut pikiran mereka.

“Anak membutuhkan bimbingan dan latihan dengan Cinta dan Logika. Saling menghormati dan saling menghargai.

… to be continued …

2 thoughts on “Seminar Pengasuhan Anak “Disiplin Dengan Kasih Sayang” part 1

  1. wah ampir mirip-mirip ni sama yang aku baca di bukunya Thomas Gordon. Aku juga baru tau kalo ternyata pemberian hadiah/hukuman itu akan gag efektif begitu anak besar. tfs mom! suka deh 🙂

  2. Iya.. Mirip juga sama bukunya Adele Faber &amp; Elaine Mazlish. Intinya kasih sayang dan komunikasi.<br /><br />Sama-sama.. Semoga bermanfaat.. :))

Please leave a comment and I will catch up to you as soon as possible. Thank you.