Seminar Komunikasi Pengasuhan Anak

Sabtu kemarin aku ikutan rangkaian Seminar Pengasuhan Anak yang diadain sama Supermoms Community. Ada 3 sesi dan yang kemarin itu adalah sesi pertama. Pembicaranya adalah Ibu Elly Risman Psi.

 Topiknya adalah Komunikasi Pengasuhan Anak. Nah kemarin itu acaranya seru banget. Bener-bener 3 jam itu gak kerasa. Pake acara nyanyi-nyanyi, trus latihan dan kegiatan lainnya. Pokoknya intinya seru. Bu Elly sendiri dalam menjelaskan slalu pake contoh yang gampang dimengerti dan kita jadi bisa lebih paham maksudnya.
Sebenernya ini adalah salah satu “eye opener” terhadap cara pengasuhan yang selama ini sudah ada di masyarakat tetapi tidak tepat atau bahkan keliru. Jadi diharapkan setelah mengikuti seminar ini, cara pandang terhadap pola pengasuhan menjadi berbeda.
Nah aku share yah materi seminarnya ditambah sedikit catatan dari aku. 🙂
Selama ini tanpa disadari, kita sebenarnya tidak siap menjadi orang tua. Kenapa, selain karena memang tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua, juga karena kita tidak/belum menguasai tahapan perkembangan anak dan kita juga tidak/belum menguasai cara otak bekerja. Sehingga dapat berpengaruh pada kepribadian dan masa depan anak. Oleh karena itu setiap orang tua hendaklah aktif dalam mencari informasi sebanyak mungkin.
Secara tidak sadar, terkadang ketika kita berbicara perkataan kita dapat berakibat:
  • melemahkan konsep diri
  • membuat anak diam, melawan, menentang, tidak perduli, sulit diajak kerjasama
  • menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
  • kemampuan berfikir menjadi rendah
  • tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri dan
  • mengakibatkan anak menjadi iri terus.
Ada beberapa kekeliruan mendasar dalam komunikasi:
1. Ketika berbicara, seringkali tergesa-gesa.
    Biasanya karena kita selalu diburu-buru sama waktu, jadinya kalau ngomong selalu cepet-cepet. Malah terkadang anak baru ngomong satu baris, kita udah ngomong 10 kalimat. Bahkan dari sejak anak bangun tidur. Belum juga dia sadar sudah di “semprot” dengan rentetan kalimat dari kita. Terkadang tidak hanya ke anak, ke sesama juga terkadang kita seperti itu.
2. Tidak kenal diri sendiri .
    Pernahkah anda mengambil waktu sejenak untuk berpikir tentang kelebihan dan kekurangan anda? Jika anda memang mengenali diri sendiri, maka anda akan dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan anda secara cepat. Tetapi jika tidak, maka anda belum mengenal diri anda sendiri. Nah jika anda tidak mengenal diri sendiri, bagaimana anda bisa mengenal diri orang lain. Bahkan diri anak anda atau pasangan anda.
3. Lupa bahwa setiap individu adalah unik
    Terkadang, seseorang lupa bahwa setiap individu itu adalah unik. Anda dan saudara-saudara anda sudah tentu berbeda, bahkan saudara kembar-pun pasti berbeda. Itu adalah karena memang setiap individu adalah unik.
4. Perbedaan antara Kebutuhan dan Kemauan
    Sebagai orang tua kadang-kadang kita suka memaksakan kemauan kita ke anak, padahal belum tentu itu adalah kebutuhan anak kita. Misalnya kita memaksakan anak kita untuk minum susu setiap hari, padahal belum tentu itu adalah yang dibutuhkan oleh anak kita.
5. Tidak Membaca bahasa tubuh
    Kesalahan mendasar lain adalah seringkali kita mengabaikan bahasa tubuh yang diberikan. Misalnya anak pulang sekolah sudah cemberut dan mulai-membanting-banting barang-barangnya. Seringkali, bukannya anda menenangkan dan mendengar anak anda, anda malah memarahinya karena membanting-banting barangnya. Ini adalah karena anda tidak membaca bahasa tubuh dari anak anda.
6. Kurang mendengar aktif
    Seringkali orang agak kesulitan dalam mendengar secara aktif. Mendengar secara aktif disini adalah anda benar-benar mencoba mendengarkan perasaan anak/seseorang tanpa ada “menasehati” dan “menilai” disini anda hanya mendengar dan memancing sedikit supaya emosi yang tadinya terkumpul bisa tersalurkan keluar dengan bercerita.
7. Tidak mendengar perasaan
    Kebiasaan kita adalah susah dalam mengekspresikan perasaan. Oleh karena itu kita juga seringkali menjadi susah dalam mendengar perasaan anak kita dan orang lain.
8. Menggunakan 12 Gaya Populer dan MKM
  • Memerintah (ex: Ayo kamu pergi ganti baju dulu jangan lupa simpen sepatu ditempatnya.)
  • Menyalahkan (ex: Tuh kan.. Dibilang juga apa, kamu sih nakal. Jatuh deh tuh.)
  • Meremehkan (ex: Ah.. Sakit segitu aja kok heboh.)
  • Membandingkan (ex: Coba kamu liat temen kamu itu, dia bisa ngerjain PR sendiri)
  • Mencap/Label (ex: Ihhh kamu cengeng. Dasar anak nakal.)
  • Mengancam (ex: Awas yah kamu kalo enggak mau minum susu, nanti penyakitan loh.)
  • Menasehati (ex: Makanya, kalau gak mau ketinggalan PR-nya, siapin sebelum tidur.)
  • Membohongi (ex: Ah.. Itu luka kecil, besok juga sembuh. *padahal kenyataannya bisa 3 hari sembuhnya*)
  • Tidak Menghibur (ex: Udah deh diem, jangan nangis melulu. Sedih sih sedih, tapi gak segitunya deh.)
  • Mengeritik (ex: Kamu tuh yah, gak bisa apa yah pake baju yang bagusan dikit. Dekil.)
  • Menyindir (ex: Ihh.. Pantesan ujan, ternyata gara-gara kamu bangun pagi toh.)
  • Menganalisa (ex: Ah pasti gara-gara kamu kelayapan mlulu makanya nilainya jelek.)
9.Tidak memisahkan: Masalah Siapa?
   Sebagai orang tua kadang-kadang kita suka keliru dalam memisahkan masalah. Masalah yang harusnya dihadapi anak dan memberi anak pelajaran terkadang suka kita anulir atau kita hindari sehingga anak kita tidak belajar. Misalnya :Anak ketinggalan PR dirumah, lalu telpon ke rumah untuk minta diantar. Sebagai ibu, tentunya kita tidak tega pada anak lalu pergi untuk mengantarkan PR tersebut ke sekolah. Kita seringkali lupa bahwa dengan bertindak demikian, justru anak tidak belajar mengenai konsekuensi. Ia akan menganggap remeh masalah ini karena akan ada anda/suami yang membantunya setiap saat.
10. Selalu menyampaikan Pesan Kamu
    Dalam berbicara, seringkali kita tanpa sadar memberikan pesan bahwa “kamu” bersalah. Kamu disini tidak membedakan atau memberi spesifikasi tentang masalah yang sebenarnya terjadi dan pribadi anak. Sehingga anak tersebut kurang mengerti apa masalah sebenarnya.
Kesepuluh kekeliruan diatas pada akhirnya bisa berakibat fatal ke anak kita. Bahkan kepada cucu kita. Karena anak kita akan cenderung mengikuti gaya pengasuhan kita tanpa dia sadari. Oleh karena itu sebaiknya kita dapat memutus mata rantai pola pengasuhan yang tidak tepat itu.
Bagaimana caranya, yang paling mudah adalah kita mencoba melihat dari sisi yang lain lebih dahulu. Atau istilahnya bu Elly, coba kita bergeser. Jika biasanya kita melihat sesuatu dari tampak depan, coba saja kita bergeser 2 langkah ke kiri/kanan. Tentu saja yang kita lihat akan berbeda. Begitupun dengan cara kita melihat suatu masalah dan melihat orang. Coba geser cara pandang kita. Maka kita akan melihat sebuah perspektif baru. Dan jangan melihat orang dari sisi negatif saja.
Ada beberapa cara yang dikemukakan ibu Elly dalam seminarnya antara lain:
1. Berbicara jangan tergesa-gesa.
    Supaya kita memiliki waktu lebih, maka biasakan untuk selalu membuat rencana. Rencana yang baik dan terorganisir akan membuat kita memiliki waktu yang cukup. Sehingga ketika kita berbicarapun tidak perlu tergesa-gesa. Kita bisa berbicara dengan lebih tenang, sehingga pesan dapat disampaikan dengan jelas dan lawan bicara kitapun akan mendengarkan dengan lebih seksama.
2. Belajar untuk kenali diri kita dahulu. Kemudian kenali lawan bicara kita (suami, anak,dll)
   Sebelum kita mengenali diri orang lain, coba kita kenali diri kita dahulu. Take your time to look into yourself. Put yourself into different perspective first. Then put yourself again in your own shoe. When you can see everything in whole new perspective, then you will feel a lot better. And therefore you can start to know other person better.
3. Ingatlah selalu bahwa setiap individu itu UNIK.
   Seperti apapun anda, percayalah selalu bahwa anda adalah Unik. Sama uniknya seperti sidik jari anda. Oleh karena itu jangan pernah berpikir bahwa anda biasa-biasa saja. You are unique in your own way.
4. Pahamilah bahwa Kebutuhan dan Kemauan itu berbeda.
   Kita harus bisa membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang merupakan kemauan. Oleh karena itu jangan paksakan kemauan kita kepada anak. Anak juga memiliki kemauan sendiri. Oleh karena itu hargailah kemauan mereka. Always appreciate their wants and needs.
5. Baca Bahasa Tubuh

    Cobalah untuk lebih peka dalam melihat anak kita dan orang lain. Pelajari dan coba fahami bahasa tubuh mereka. Jika memang bahasa tubuh mereka menunjukkan kekesalan, kesedihan, dan lain-lain janganlah kita malah berlaku sebaliknya dan memarahinya. Bahasa tubuh tidak pernah berbohong, oleh karena itu coba pahami dan perhatikan bahasa tubuh dan sinyal-sinyal yang diberikan kepada kita.

6. Dengarkanlah perasaan

     Setelah kita dapat membaca bahasa tubuh, coba tandai pesan yang diberikan kepada kita. Jangkaulah rasa atau pesan yang diberikan. Buka komunikasi dengan anak/orang tersebut. Lalu beri nama pada perasaan itu (ex: Lagi capek ya…; lagi kesel ya..). Kemudian biarkan emosi anak/orang tersebut mengalir. Jika memang terlihat masih menyimpan hal lain, coba pancing sedikit supaya emosi itu juga dapat mengalir keluar.
7. Mendengar Aktif
    Setelah kita mendengarkan perasaan, coba menjadi cermin sehingga kita lebih memahami yang sedang dirasakan anak/orang lain. Dengarkanlah cerita mereka. Jangan sekali-kali menasehati, menyalahkan atau menggurui ketika mereka sedang sedih. Biarkan mereka bercerita dahulu supaya perasaan menjadi lebih tenang dan lega. Ketika perasaan senang, baru kita coba untuk memberikan saran. Hati yang senang, pikiran akan menyerap lebih banyak sehingga lebih mengerti.
8. Hindari 12 gaya populer dan MKM
   Hidari gaya-gaya berbicara tersebut, sehingga anak akan bisa lebih percaya pada perasaannya sendiri. Berikan masukan positif kepada anak. Selalu tanamkan hal-hal yang baik kepada anak sehingga mereka akan terpicu dan melihat masa depan dengan lebih baik dan dengan pikiran dan perasaan yang positif.
9. Tentukan Masalah Siapa?
   Dalam menjalani hidup tentu saja kita akan dihadapi dengan pilihan. Setiap pilihan ada konsekuensinya. Biarkan anak belajar mengenai konsekuensi dari pilihan mereka tersebut. Ingatlah selalu agar kita dapat membedakan mana masalah kita dan mana masalah anak. Sehingga anak tetap mendapat pelajaran dari segala yang dia lakukan.
10. Sampaikan Pesan Saya.
     Ketika menyampaikan pesan kepada anak, jangan menekankan “kamu” karena itu tidak membedakan masalah dengan anak. Cobalah dengan kalimat seperti : “Mama tidak suka kalau ….. karena….” Anak akan lebih mengerti apa yang dimaksud oleh kita dan dapat membedakan apa yang diharapkan dan apa masalahnya.
Ada beberapa pesan yang dikemukakan oleh bu Elly. Antara lain, kita harus bisa lebih mengungkapkan perasaan kita terhadap anggota keluarga kita. Setiap anggota keluarga juga hendaknya mendapat informasi apa yang akan dikerjakan. Ini dengan tujuan supaya nantinya anak juga akan bercerita tentang kegiatannya sehari-hari tanpa harus kita paksa atau tanya-tanya.
Anak belajar melalui 3B yaitu : Bermain, Bercerita dan Bernyanyi.. Oleh karena itu, ciptakanlah suasana yang menyenangkan supaya anak kita juga bisa belajar dengan lebih baik.
Anak adalah titipan Allah yang sangat berharga oleh karena itu perlakukan mereka dengan baik, didik mereka dengan baik dan sayangi mereka dengan sepenuh hati.

 

6 thoughts on “Seminar Komunikasi Pengasuhan Anak

Please leave a comment and I will catch up to you as soon as possible. Thank you.