Bermain

Apa itu bermain? pasti banyak sekali arti dari kata bermain. Beberapa beranggapan, bahwa bermain itu harus dengan mainan. Apakah itu benar atau salah, kita tidak tahu, semua kita kembalikan ke masing masing individu mengartikannya seperti apa.

Bagi saya awalnya, bermain itu harus dengan mainan, akan tetapi kalau di ingat-ingat, jarang sekali saya beli mainan ataupun dibelikan mainan. Hal itu nampaknya tertular juga kepada baby K.
Dari sejak lahir, bisa dibilang kami adalah keluarga yang sangat jarang membeli mainan untuk baby K. Terakhir kami membeli mainan, pada saat mama dan baby K memenangkan voucher untuk belanja di toko mainan.
Pada suatu saat, saya terkadang merasa sedih, karena jika dibandingkan dengan yang lain, baby K sedikit sekali memilki mainan, akan tetapi pada suatu titik, barulah saya menyadari jika baby K justru lebih suka bermain dengan apa yang bisa dia temuin.
 Pada suatu hari, entah kapan itu, sudah lupa *emang pelupa*, saya bermain dengan baby K. Kami bermain dengan apa saja yang kami temukan di depan mata kami, mulai dari kantong plastik, bungkus makanan, kaleng, koin, kertas, dll. Disitulah saya baru tersadar, ternyata bermain itu tidak harus selalu dengan mainan, akan tetapi bermain dengan apa yang kita temuin itu justru yang memancing imajinasi yang kuat, tentunya gak semua barang kita bisa jadikan mainannya.
Setelah diperhatikan, ada beberapa *andalan* mainan baby K yaitu : bekas botol vitacharm/yakult, kardus makanan, kucing *seneng ngejar, tapi takut kalo dideketin kucingnya*, botol bedak, kantong plastik belanjaan, tisu basah, stiker yang nempel pada sesuatu, dan masih banyak lagi.
Mudah-mudahan Baby K tidak sampai kaya papanya yang dulu terlalu canggih sampai suka mancing semut, mancing ikan di selokan trus dibakar dan yang paling parah adalah loncat dari genteng pake payung *keracunan nonton tv*

Please leave a comment and I will catch up to you as soon as possible. Thank you.