Renunganku ,1 Tahun Yang Lalu

Saya adalah seorang ibu rumah tangga dengan satu orang putri cantik. Saya hanyalah wanita biasa yang tidak memiliki kisah yang sangat luar biasa. Saya hanya ingin bercerita sedikit tentang pengalaman saya. Menjelang hari ulang tahun putri saya yang pertama, membuat saya banyak merenung dan mengingat-ingat kembali kenangan tentang kisah dan perjalanan di awal kehadiran putri kami.

Teringat kembali masa-masa kami menanti kehadiran anak kami yang pertama. Memang waktu 5 bulan menanti itu bukanlah waktu yang lama untuk sebagian pasangan menanti buah hatinya. Tetapi waktu itu cukup membuat hati sedikit ketar ketir. Kenapa, karena di awal pernikahan, ketika saya baru mau pindah kerja, saya diharuskan untuk menjalani test kesehatan. Dan ternyata dokter menemukan benjolan kecil di payudara kiri saya dan mencurigainya sebagai tumor jinak dan menyarankan saya untuk USG Mamae di rumah sakit.
Akhirnya USG Mamae itu saya jalani dan hasilnya mengkonfirmasikan dugaan itu. Saya memiliki benjolan yang masih harus diobservasi karena sudah mulai membentuk jaringan untuk menjadi tumor. Betapa shock dan hancurnya hati saya. Sayapun tak kuasa untuk ikut kembali kedalam ruangan mendengar penjelasan dokter, hingga suami saya saja yang masuk dan menerima penjelasan dokter. Alhamdulillah penjelasannya cukup baik. Tetapi walaupun demikian, tetap saja membuat hati saya sedih sekali. Yah mungkin saya terlalu perasa dan penakut.
Dari penjelasan dokter, benjolan yang saya miliki itu memang masih dalam taraf pembentukan. Dan masih bisa hilang begitu saja atau malah bisa dengan cepat membentuk jaringan tumor. Jadi saya harus kembali untuk observasi 6 bulan kemudian dan juga menjalani gaya hidup yang sehat. Salah satu cara yang bisa ‘cepat’ adalah dengan hamil dan menyusui. Dan hal inilah yang akhirnya selalu terpikir oleh saya. Bagaimana caranya supaya saya bisa cepat hamil dan segera menyusui. Memang cukup egois. Saya berpikir untuk menyusui ‘hanya’ semata-mata demi menghilangkan cikal bakal tumor di payudara saya itu. Dan ketika saya belum juga hamil, sayapun menjadi cukup stress.
Ketika akhirnya saya hamil, kegembiraan meliputi saya begitu besarnya hingga tak sedikitpun teringat tentang cikal bakal tumor itu. Bahkan baru teringat ketika saya merenung ini. Memang berita kehamilan itu amat sangat membahagiakan dan bisa membuat saya melupakan berbagai macam masalah. Yang kini memenuhi pikiran saya adalah bagaimana saya merawat dan menjaga kehamilan saya dan pada akhirnya bagaimana menjaga dan merawat anak saya.
Setelah saya belajar dan membaca dari berbagai sumber, saya belajar tentang betapa pentingnya pemberian ASI. Dan kini yang memenuhi benak saya adalah bagaimana caranya supaya saya bisa memberikan ASI ke anak saya hingga minimal 2 tahun, sesuai dengan yang di sebutkan dalam Al Quran. Tidak lagi terpikir oleh saya bagaimana cara saya menyusui supaya bisa menghilangkan sang cikal bakal tumor itu.
Dan waktunya pun datang. Saya melahirkan seorang bayi mungil yang sehat dan cantik. Alhamdulillah IMD-pun berhasil dilaksanakan dengan baik dan Baby K berhasil menemukan puting tanpa banyak kesulitan. Dan proses menyusui pun diawali dengan sesegera mungkin. Seperti kebanyakan ibu baru, diawal proses menyusui, sayapun mengalami lecet, tetapi itu tidak menghentikan saya untuk terus menyusui Baby K.
Kebetulan, saya melahirkan melalui proses Caesar. Bukan karena saya yang meminta, tetapi karena setelah kontraksi dan induksi, ternyata pembukaan tidak bertambah, bahkan kepala Baby K naik dari jalur lahir. Sehingga dokter, dengan persetujuan suami saya melakukan operasi Caesar itu. Dan, kebetulan proses pemulihan saya berjalan agak lama. Mungkin karena saya juga sedikit ‘nekat’. Belum cukup kuat, sudah ‘nekat’ turun dan jalan-jalan di kamar. Termasuk beberes dan mengambil barang-barang yang agak berat. Sehingga proses pemulihan menjadi agak lama.
Melihat keadaan saya yang demikian, orang-orang disekitar saya mulai mendorong saya untuk memberikan tambahan susu formula ke Baby K. Tetapi saya bersikeras dan ‘kekeuh’ tetap memberikan ASI untuk Baby K. Memang tanpa saya sadari, karena proses pemulihan yang agak lama, jam tidur yang berubah, dan terutama karena desakan memberikan susu formula untuk Baby K membuat saya mengalami ‘baby blues’. Memang masih dalam tahap yang ringan. Saya masih tetap mau menyusui Baby K dan merawat Baby K seperti biasa. Tetapi ‘baby blues’ yang saya alami cukup membuat saya terpuruk.
Tanpa sepengetahuan orang lain saya sering kali menangis. Baik itu ketika menyusui, makan, bahkan ketika saya diam saja dikamar berdua Baby K. Seringkali saya seperti ‘meratapi’ keadaan saya ini. Dan keadaan inipun semakin menjadi ketika desakan untuk memberikan tambahan susu formula semakin kencang. Bukannya saya membenci atau menentang susu formula. Tetapi saya sudah bertekad untuk memberikan ASI Eksklusif untuk Baby K. Jadi dengan mendesak terus menerus sama saja tidak menghargai keputusan saya. Dan hal ini yang membuat saya sedih.
Seringkali setelah menerima telepon dan menutup telepon dari seseorang, sayapun bersimbah air mata kembali. Sungguh sangat sedih sekali saya mengapa orang ini tidak kunjung mengerti, bahkan terus menerus memaksa. Bahkan sampai pada keadaan dia meminta saya menyebutkan merk susu formula, dan dia akan membelikannya bila saya tidak mampu membelinya. Dan kejadian ini terus menerus terulang ketika terjadi komunikasi antara saya dan orang tersebut.
Ketika akhirnya saya benar-benar di titik puncak, sayapun pada akhirnya meminta pertolongan dari suami saya. Bukannya suami saya tidak peka atau dia tidak membantu, tetapi ternyata tanpa saya sadari, iapun mengalami ‘baby blues’ juga sehingga iapun berkutat dengan ‘baby blues’nya. Ketika akhirnya saya ‘berteriak’ meminta pertolongan kepada suami saya, iapun menjadi seorang ksatria bagi saya. Ia pada akhirnya meminimalisasi komunikasi saya dengan orang tersebut, dan selalu menjadi pertahanan terdepan terhadap gempuran tentang susu formula itu.
Dan yang tersisa adalah saya yang akhirnya bisa menata kembali perasaan dan kembali ‘waras’ sehingga bisa menatap hari esok dengan lebih bersemangat. Karena sebelumnya, rasanya hari itu seperti suram sekali. Padahal saya memiliki seorang putri cantik yang seharusnya bisa menceriakan hari-hari saya. Dan ketika sayapun bisa bangkit kembali dari ‘baby blues’ saya, hari-hari yang saya jalani bersama Baby K dan suami menjadi lebih ceria dan amat sangat berharga.
Hingga suatu hari, ketika Baby K kontrol ke dokter, ternyata berat badannya kurang dan ini sudah berlangsung selama 3 bulan. Memang setelah saya pelajari, hal demikian memang terjadi di beberapa bayi. Melihat keadaan Baby K yang memiliki berat badan kurang ini, mengalir kembalilah desakan susu formula itu. Dan sayapun kembali terpuruk dan kembali mengalami hari-hari menyedihkan itu. Saya kembali menangis dan sedih di saat saya sendirian. Dan keadaan kali ini ditambah lagi dengan desakan orang-orang  terkasih dan juga perasaan bersalah bahwa saya tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk Baby K. Tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anak saya sendiri. Namun, keterpurukan saya yang kedua kali ini tidak berlangsung lama, karena kali ini suami saya yang lebih cepat tanggap terhadap keadaan saya dan iapun segera memberikan semangat dan menyadarkan saya kembali. Dan ia, kembali menjadi ksatria yang menghadang segala gempuran itu.
Pelajaran yang saya ambil dari perjalanan hidup saya setahun belakangan ini adalah jangan cepat panik ketika mendengar suatu vonis dari dokter. Selalu cari second, third, fourth, opinion terhadap vonis itu. Selalu juga mencari banyak informasi tentang penyakit yang kita alami. Alhamdulillah, kini benjolan di payudara sayapun sudah hilang.
Ketika kita mengalami ‘baby blues’ harus selalu berusaha untuk mengkomunikasikannya dengan orang terdekat. Terutama dengan suami. Komunikasi, komunikasi, komunikasi. Itu amat penting. Karena dengan berkomunikasi kita bisa mencari akar permasalahan dan juga solusinya sehingga bisa cepat keluar dari ‘baby blues’ tersebut.
Alhamdulillah hingga hari ini, saya masih tetap memberikan ASI tanpa ada tambahan susu formula untuk Baby K. Dan sayapun belajar bahwa desakan itu tidak akan berhenti, jadi saya harus belajar bagaimana saya menyikapinya saja. Saya harus bisa belajar untuk lebih kuat dan tegar dalam menerima omongan orang lain. Bahkan dari orang terdekat sekalipun. Pandangan orang belum tentu sama dengan padangan kita. Sama halnya seperti pola pengasuhan anak. Seperti slogan The Urban Mama, There is always a different story in every parenting style.
Tak terasa ulang tahun pertama Baby K akan segera datang. Semoga pelajaran dan pengalaman ini bisa membuat kami menjadi keluarga yang lebih kuat dalam menjalani kehidupan mendatang dan juga terutama untuk saya, bisa menjadi wanita yang lebih tegar dan juga kuat. Karena waktu akan terus berjalan, tidak akan pernah terulang. Maka sebisa mungkin menjalani hidup dengan positif, dan selalu bersyukur atas Karunia Allah SWT.

Please leave a comment and I will catch up to you as soon as possible. Thank you.