My Husband, My Love, My Life

Ladang tetangga slalu terlihat begitu hijau.. Yah.. Itulah pepatah yang sering kita dengar.. Pepatah itu menggambarkan keadaan jika kita melihat orang lain kita jadi kepengen memiliki sesuatu seperti yang dimiliki orang itu, padahal seringkali kita juga sudah memilikinya, walau sedikit berbeda.

Kejadian ini memang manusiawi, karena sifat dasar manusia yang memang tidak pernah merasa puas. Jadi selalu saja mencari hal-hal yang baru.

Saya sebagai seroang manusia biasa pun acap kali sering juga mengalaminya. Ada yang kadangkala diucapkan, ada yang hanya disimpan dalam hati.

Dan baru-baru ini, ada seorang teman saya yang sedang berulang-tahun. Suaminya mengiriminya bunga ke kantor dan memberikan berbagai kejutan manis sepanjang hari. Ada juga suami seorang teman saya yang menulis blog begitu indahnya dan memuji-muji istrinya.

Sebagai seorang wanita, kadang-kadang saya ingin juga dimanja atau diberi perhatian seperti itu. Yang dapat membuat hati seorang wanita berbunga-bunga.

Tetapi.. Hal ini sepertinya akan sulit saya terima karena suami saya bukanlah orang yang romantis. Ia agak sulit mengekspresikan perasaannya. Memang sudah seperti itu dia dari kecil. Apakah saya menyesal, tentu tidak. Tapi memang ada saja keinginan itu supaya suami saya bisa lebih romantis.

Jika dikilas balik kehidupan rumah tangga kami yang memang masih sangat muda, selama ini perbedaan pendapat memang pasti ada. Pertengkaran pun ada tapi cepat di selesaikan. Sayang-sayangan, tentu saja ada. Namanya juga suami-istri. Nah.. Ketika saya sedang dilanda ‘kecemburuan akan suami romantis’, kini yang harus saya ingat adalah perlakuan suami saya kepada saya.

Suami saya bukanlah seorang yang menuntut istrinya untuk selalu melayani dia. Dalam artian saya tidak harus selalu memasak untuk dia, menunggu dan menyambutnya pulang dan hal-hal lainnya. Sebelum menikah, ia sudah terbiasa melakukan banyak hal sendiri, jadi kenapa harus setelah menikah, tiba-tiba suami tidak melakukannya sendiri. Karena menurut dia, ia mencari seorang istri, bukan seorang pembantu. Hmmm.. Memang ada benarnya. Tapi ia juga mengerti jika istri melakukan itu karena sang istri sedang beribadah, mencari pahala.

Ia pernah berdiskusi dengan atasannya mengenai peranan suami memberi nafkah kepada istrinya. Dan ia mempelajari bahwa ‘nafkah’ dalam pengertian lebih dalam sebenarnya adalah suami, juga memberikan istri makanan yang sudah siap untuk dimakan hingga di depan istrinya. Artinya sebenarnya seorang suami adalah orang yang seharusnya memasak untuk istri. Tetapi.. Jika istri yang melakukannya itu adalah dalam rangka mencari pahala. Dan suami tidak boleh menyakitinya dengan berkata bahwa masakannya tidak enak, atau bahkan memakinya dan tidak mau makan masakannya. Atas dasar inilah maka suami saya tidak pernah memaksa saya untuk memasak. Tetapi ketika saya memasak, apapun yang saya hidangkan pasti akan dimakan sampai habis olehnya.

Hal tentang masak inipun baru saja terjadi. Suatu hari saya masak makanan buat baby K makan sore. Tetapi baby K sama sekali tidak mau makan masakan saya. Ia hanya mau makan pisang. Dan karena makanannya sudah tercampur, tidak bisa dihangatkan kembali dan diberi ke baby K. Terpaksa harus dibuang. Saya bercerita ke suami saya via telpon ketika ia menelpon untuk menanyakan kabar kami. Dan apa jawabannya.. Ia memaksa makanan itu tidak boleh dibuang. ia meminta saya untuk menyimpan makanan itu di kulkas saja, supaya ia bisa makan nanti ketika pulang. Alangkah kagetnya saya mendengar itu. Apalagi ketika suami saya berkata “Kamu sudah masak, makanan yang sudah kamu masak harus dihabiskan, tidak boleh dibuang. Kalau baby K tidak mau, biar aku yang habiskan. Kamu simpan saja di kulkas supaya nanti bisa saya makan.”

Dengan penuh haru, akhirnya sayapun menyimpan makanan itu. Sebelumnya makanan itu saya hangatkan kembali dan saya beri bumbu garam & lada. Karena makanan untuk baby K semuanya tanpa garam dan lada. Saya simpan makanan itu, kemudian saya tidur bersama baby K.

Kebetulan suami saya pulang lembur. Ia baru pulang sekitar jam 2.30 pagi. Dan apa yang dia lakukan.. Ia pulang, buka pintu sendiri, dan kemudian bersih-bersih. Lalu ia mencari makanan yang sudah saya masak itu. Ia habiskan, lalu ia cuci piringnya baru kemudian ia masuk kamar untuk berganti pakaian dan kemudian tidur. Alangkah tersentuh hati saya malam itu. Memang saya terbangun. Tetapi karena kebetulan baby K juga terbangun mau minum susu, maka saya tidak keluar menyambut suami saya. Ketika suami saya masuk, ia masuk dengan wajah yang lelah, tetapi ketika melihat kami, wajahnya pun berangsur-angsur menjad cerah. Ia pun bercerita tentang kegiatannya hari itu dan memuji masakan saya yang sudah dihabiskannya.

Kemarin, kebetulan PD saya agak tersumbat. Dan rasanya sungguh sakit. Baby K pun sudah terlelap. Saya sudah coba massage dan kompres. Tapi memang ‘penyembuh’nya adalah baby K. Jadi saya harus menunggu hingga baby K terbangun lagi. Suami saya melihat saya agak kesakitan, dan tak butuh waktu lama, ia langsung memijit punggung saya untuk membantu. Ketika saya sudah capek massage PD, ia pun membantu hingga ia tertidur. Sungguh hal yang sepertinya sepele tapi dilakukan suami saya tanpa pamrih. Ia pun seringkali memijit badan saya ketika saya tidur. Terkadang saya masih terbangun, tetapi sering juga saya tertidur karena terlalu capek.

Ia juga selalu ikut terbangun ketika saya menyusui baby K dimalam hari. Bahkan ia sudah berani mengganti popok baby K dari sejak baby K berumur 1 hari. Ia juga selalu menyediakan waktu untuk baby K. Betapa sedihnya ia jika harus lembur dan terpaksa melewatkan waktu bermainnya dengan baby K. Ia selalu memantau dan terlibat dalam proses mendidik baby K. Baby K adalah anak kami berdua, jadi sudah merupakan tanggung jawab berdua untuk mendidik dan membesarkannya. Semua yang saya lakukan diapun bisa melakukannya. Tentu saja kecuali menyusui. Kalau itu jelas dia tidak bisa.. Hehehe..

Jika saya benar-benar melihat kembali perlakuan suami saya, apakah saya masih mau mencari atau meminta ke-romantisan dari suami saya? Justru hal-hal ini adalah sebenarnya sisi romantis dari suami saya. Memang ia tidak mudah mengekspresikan perasaannya. Tetapi ia selalu membuktikan perasaannya melalui perlakuannya. Sungguh sangat egois untuk saya jika saya masih meminta ke-romantisan dari suami saya. Tak ada lagi yang bisa saya katakan selain, My husband, my love, my life..

Please leave a comment and I will catch up to you as soon as possible. Thank you.